TAKENGON-LintasGAYO.co : Gayo Alas Conservation Center (GACC) menyusun Rencana Strategis (Renstra) 2027–2032 sebagai arah pengembangan organisasi sekaligus upaya memperkuat konservasi dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Gayo-Alas.
Kegiatan yang berlangsung pada 20–21 September 2026 ini melibatkan pengurus GACC, pemerintah daerah, aktivis lingkungan, akademisi, pemuda, dan pemangku kepentingan lainnya. Forum mengangkat tema “Memperkuat Inisiatif Konservasi dan Perlindungan Mata Pencaharian dalam Kawasan Perhutanan Sosial di Bentang Alam Gayo Alas.”
Penyusunan Renstra dilakukan secara partisipatif melalui penjaringan aspirasi, analisis SWOT, konsultasi publik, dan penyempurnaan dokumen.
Konservasi dan Kesejahteraan Berjalan Bersama
Direktur GACC, Sayuti Malik mengatakan, forum membahas berbagai tantangan di kawasan Gayo Alas, mulai dari degradasi hutan, alih fungsi lahan, perubahan iklim, konflik satwa, hingga tekanan terhadap kawasan hutan.
Perubahan iklim menjadi perhatian karena berdampak pada kondisi lingkungan dan mata pencaharian masyarakat, terutama petani yang bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Keberlanjutan perkebunan kopi di kawasan Gayo juga dinilai perlu didukung oleh kondisi lingkungan yang baik, ketersediaan lahan, dan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan.
“Selain lingkungan, forum menekankan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati, budaya, dan pengetahuan lokal sebagai bagian dari upaya konservasi,” katanya.
Dalam arah strategisnya, GACC kata dia, menempatkan tiga hal sebagai satu kesatuan, yaitu ekosistem, kesejahteraan masyarakat, dan budaya. Konservasi dinilai akan lebih kuat jika berjalan bersama dengan pengembangan ekonomi masyarakat dan tetap berlandaskan kearifan lokal.
Enam Arah Strategis
Dalam penyusunan Renstra, GACC menetapkan enam arah strategis, yaitu penguatan kelembagaan, pengembangan pusat data dan riset, ekonomi berbasis perhutanan sosial, diversifikasi pendanaan, pengembangan koridor konservasi, dan pembangunan arboretum.
Arah tersebut akan diperkuat melalui program konservasi ekosistem, pengembangan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya dan ekolinguistik, pendidikan, riset, serta pengembangan sumber daya manusia.
“Sejumlah gagasan ekonomi masyarakat juga dibahas, termasuk penguatan koperasi, pertanian terintegrasi, diversifikasi komoditas, dan pemanfaatan sumber daya lokal yang memiliki nilai ekonomi. Langkah ini diharapkan dapat membuka pilihan mata pencaharian sekaligus mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan,” kata Sayuti.
Perkuat Sinergi dan Riset
Penyusunan Renstra juga diarahkan agar selaras dengan perencanaan pemerintah daerah, termasuk RPJMD, Renstra perangkat daerah, dan rencana kerja tahunan.
Perwakilan pemerintah daerah mendorong agar aspek kebencanaan serta penelitian dan pengembangan berbasis bukti diperkuat dalam Renstra. Masukan ini menjadi penting dalam melihat hubungan antara kondisi lingkungan, pengelolaan daerah aliran sungai, dan keselamatan masyarakat.
GACC juga menargetkan pengembangan desa mitra konservasi, pendampingan kawasan, peningkatan pendapatan masyarakat, pelestarian pengetahuan dan bahasa lokal, penguatan riset, serta peningkatan keterlibatan pemuda.
Salah satu gagasan yang dibahas adalah pengembangan Tengku Tapa Arboretum sebagai bagian dari upaya konservasi dan pengelolaan kawasan berbasis masyarakat.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Sayuti mengatakan, GACC menilai konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Kolaborasi antara pemerintah, LSM, akademisi, masyarakat, pemuda, sektor swasta, dan mitra lainnya menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.
“Forum konsultasi publik juga menjadi ruang untuk menyerap masukan sebelum dokumen Renstra diselesaikan. Dalam TOR, konsultasi publik ditargetkan menghasilkan sedikitnya 10 masukan substantif untuk memperkaya dokumen,” ujarnya.
Renstra GACC 2027–2032 diharapkan menjadi roadmap organisasi dalam menjalankan program konservasi dan pemberdayaan masyarakat selama lima tahun ke depan, sekaligus menjadi acuan penyusunan program kerja dan anggaran tahunan.
“Kegiatan Penyusunan Renstra ini merupakan bagian dari kerja Konsorsium Pawang (peusangan Wildlife Empowerment and Gedsi) dan didukung oleh WWF (World Wild Fund),” tandasnya.
[SP]







