Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd*
Ramadhan telah berlalu, tetapi satu pertanyaan penting layak diajukan: apa yang benar-benar berubah dari diri dan kehidupan sosial kita? Jika setelah sebulan ditempa dengan ibadah kita masih gemar menjatuhkan sesama, maka boleh jadi Ramadhan hanya berhenti sebagai ritual, bukan transformasi.
Salah satu penyakit sosial yang paling merusak—namun sering dianggap lumrah—adalah mentalitas kepiting. Analogi ini sederhana: ketika satu kepiting berusaha keluar dari ember, yang lain justru menariknya kembali ke bawah. Akibatnya, tidak ada yang benar-benar keluar. Semua terjebak dalam kegagalan kolektif.
Ironisnya, mentalitas ini kerap tumbuh dalam masyarakat yang mengaku religius. Ketika seseorang maju, bukan dukungan yang muncul, melainkan kecurigaan, iri hati, bahkan upaya menjatuhkan. Ini bukan sekadar kelemahan moral, tetapi pengkhianatan terhadap nilai-nilai Ramadhan.
Padahal, Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka… dan janganlah kamu saling menggunjing satu sama lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini bukan sekadar larangan etis, tetapi fondasi kehidupan sosial. Prasangka, gosip, dan upaya menjatuhkan adalah pintu masuk dari mentalitas kepiting. Ketika ini dibiarkan, kehancuran sosial hanya tinggal menunggu waktu.
Lebih jauh, Al-Qur’an juga mengingatkan tentang standar kemuliaan manusia:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan spirit egaliter yang diajarkan Ramadhan. Tidak ada alasan untuk iri terhadap keberhasilan orang lain, karena ukuran kemuliaan bukan pada capaian duniawi, melainkan ketakwaan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: ukuran duniawi dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan.
Dalam hadits, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras:
“Janganlah kalian saling hasad, saling membenci, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini secara langsung menolak mentalitas kepiting. Hasad (iri hati) adalah akar dari perilaku menjatuhkan. Ia tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial.
Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah idealitas yang diajarkan Islam: saling mengokohkan, bukan saling meruntuhkan. Namun realitas yang kita saksikan seringkali justru sebaliknya.
Dalam konteks masyarakat Gayo yang menjunjung tinggi adat, persaudaraan, dan musyawarah, mentalitas kepiting seharusnya menjadi aib kolektif. Ia merusak kepercayaan, menghambat kemajuan, dan mematikan potensi generasi muda. Tidak mungkin sebuah komunitas maju jika energi sosialnya habis untuk saling menjatuhkan.
Lebih berbahaya lagi, mentalitas ini sering dibungkus dengan istilah “kritik”. Padahal, kritik sejati membangun, bukan menjegal. Kritik yang sehat melahirkan solusi, sementara mentalitas kepiting hanya melahirkan konflik dan kemandekan.
Ramadhan sejatinya telah memberikan terapi sosial yang lengkap. Ia melatih keikhlasan, menekan ego, dan menumbuhkan empati. Ia mengajarkan untuk berbagi, bukan iri. Ia mendorong fastabiqul khairat—berlomba dalam kebaikan, bukan dalam menjatuhkan.
Namun semua itu akan sia-sia jika tidak diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Pasca-Ramadhan adalah ujian sesungguhnya. Apakah kita mampu mengapresiasi keberhasilan orang lain? Apakah kita siap menjadi penopang, bukan penarik ke bawah?
Al-Qur’an memberi arah yang jelas:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Maidah: 2)
Ayat ini adalah antitesis dari mentalitas kepiting. Ia menyeru kolaborasi dalam kebaikan, bukan kompetisi destruktif.
Sudah saatnya kita jujur: selama mentalitas kepiting masih dipelihara, selama itu pula kita akan jalan di tempat. Kita sibuk menjatuhkan, sementara dunia di luar terus bergerak maju.
Ramadhan telah mengajarkan kita untuk menjadi lebih baik. Kini pilihan ada di tangan kita: tetap menjadi “kepiting” yang saling menarik ke bawah, atau menjadi manusia yang saling mengangkat menuju kemajuan bersama.[]





