Oleh : Fauzan Azima*
Di Tanah Gayo, ukiran kerawang bukan sekadar hiasan. Ia adalah bahasa tua yang menyimpan nasihat para leluhur. Setiap garis dan motifnya seperti kalimat dalam sebuah kitab, yang sejak dahulu menjadi petunjuk hidup bagi masyarakat Gayo.
Kerawang menghiasi rumah adat Umah Pitu Ruang, pakaian adat, hingga pelaminan pernikahan. Orang tua Gayo dulu sering berkata, “Ike kenak faham murip dan memimpin manusie, baca kerawang.” Sebab di sanalah tersimpan filosofi keseimbangan, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Petuah ini layak disampaikan kepada Haili Yoga sebagai salah satu putra Gayo yang kini memegang amanah memimpin. Kerawang seakan mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang kemampuan menjaga harmoni masyarakat.
Motif emun berangkat, yang melambangkan awan bergerak, mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus peka membaca perubahan. Awan tidak pernah diam, tetapi ia tetap menjaga bentuknya di langit. Begitu pula pemimpin: boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan kehilangan jati diri dan arah.
Motif pucuk rebung memberi pesan tentang kerendahan hati. Rebung yang kecil kelak menjadi bambu besar yang berguna bagi banyak orang. Dalam maknanya, pemimpin besar adalah mereka yang tumbuh dari rakyat, memahami kesulitan masyarakat, dan tidak lupa pada akar tempat ia berdiri.
Sementara motif puter tali mengingatkan tentang kekuatan persatuan. Tali yang dipilin menjadi kuat karena banyak serat yang disatukan. Kepemimpinan yang kokoh juga lahir dari kebersamaan, bukan dari kekuasaan yang berdiri sendiri.
Para tetua Gayo dahulu menjaga nilai-nilai ini melalui sistem adat Sarak Opat. Dalam sistem itu, kepemimpinan bukan milik satu orang, tetapi hasil keseimbangan antara berbagai unsur masyarakat. Di situlah kekuatan adat Gayo bertahan hingga hari ini.
Karena itu, kerawang seolah berbisik kepada siapa pun yang memimpin di Tanah Gayo: kekuasaan bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk merawat kehidupan bersama.
Bagi Haili Yoga, kerawang mungkin dapat menjadi pengingat yang sederhana namun dalam: memimpinlah seperti ukiran kerawang; rapi dalam langkah, sabar dalam proses, dan indah dalam menjaga keseimbangan masyarakat.
Bagi orang Gayo, kerawang adalah kitab kepemimpinan. Ia adalah kitab lama yang tidak ditulis dengan huruf, tetapi dengan garis, warna, dan motif yang tidak dibuat sembarangan dan diwariskan turun-temurun.
Bersambung ke pasal ke-empat…
(Mendale, Maret 17, 2026)





