Oleh : Fauzan Azima*
Surat resmi berkop Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah itu tampak biasa saja. Sebuah berita acara serah terima ternak sapi dengan estimasi berat daging 110 kilogram.
Tertib administrasi, lengkap tanda tangan, rapi secara formal. Namun persoalannya bukan pada kertas, melainkan pada kenyataan di lapangan.
Ketika yang diterima hanya 80 kilogram, tetapi diminta menandatangani 110 kilogram, di situlah integritas diuji. Selisih tiga puluh kilogram bukan sekadar angka. Ia adalah pertanyaan tentang kejujuran, tentang siapa yang “menggemukkan” laporan dan siapa yang diminta ikut mengamini.
Penolakan untuk menandatangani bukan tindakan pembangkangan. Itu justru bentuk tanggung jawab moral. Sebab tanda tangan bukan coretan tinta, melainkan kesaksian. Ketika seseorang menolak menandatangani angka yang tidak sesuai, ia sedang menjaga marwah dirinya dan juga marwah jabatan.
Tradisi megang di Aceh bukan sekadar pembagian daging. Ia adalah simbol kebersamaan menjelang Ramadhan. Dalam megang, yang dibagi bukan hanya daging, tetapi juga rasa syukur dan solidaritas sosial. Karena itu, dana dan bantuan megang seharusnya bersih dari praktik manipulasi.
Ironis jika momentum sakral justru dijadikan celah keuntungan. Jika benar ada praktik penggelembungan angka, maka yang tercoreng bukan hanya administrasi, tetapi nilai budaya dan agama sekaligus. Megang berubah dari ibadah sosial menjadi proyek angka-angka.
Pemerintah daerah semestinya memahami bahwa kepercayaan publik jauh lebih mahal daripada selisih kilogram. Transparansi dalam distribusi bantuan harus menjadi prinsip mutlak. Timbangan harus sama antara laporan dan kenyataan.
Kasus seperti ini mengingatkan kita bahwa korupsi tidak selalu berbentuk miliaran rupiah. Ia bisa hadir dalam tiga puluh kilogram yang “ditambahkan” di atas kertas. Dan justru di situlah bahaya sebenarnya, karena dianggap kecil dan lumrah.
Masyarakat Aceh, termasuk di Aceh Tengah, memiliki nilai adat dan agama yang kuat. Jika integritas runtuh dalam hal kecil, bagaimana kita berharap kebijakan besar akan bersih? Tradisi megang akan tetap sakral hanya jika dikelola dengan jujur dan terbuka.
Pada akhirnya, keberanian menolak menandatangani angka yang tidak sesuai adalah pesan penting: lebih baik kehilangan kenyamanan sesaat daripada kehilangan harga diri. Sebab megang bukan soal daging semata, melainkan tentang menjaga amanah.
(Mendale, Pebruari 22, 2026)





