Assalamualaikum Tanoh Gayo

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Assalamualaikum Tanoh Gayo. Sapaan ini bukan sekadar adat basa-basi, melainkan pengakuan bahwa tanah ini hidup sebagaimana manusia. Ia memiliki napas pada angin pegunungan, denyut pada sungai, dan ingatan pada jejak sejarah panjangnya.

Di rimba yang menyatu dengan bentang Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), kehidupan berputar dalam hukum keseimbangan. Pohon tumbuh, akar mencengkeram, tanah menahan air. Semua saling menyapa dalam bahasa sunyi yang kerap gagal kita dengarkan.

Di tepian Danau Lut Tawar kita belajar bahwa air bukan sekadar cairan. Ia adalah rahim yang menyimpan kehidupan. Ketika ia meluap atau mengering, barangkali itu bukan sekadar gejala alam, tetapi pesan yang terabaikan.

Bencana yang datang di Tanoh Gayo sering kita sebut sebagai takdir. Longsor, banjir, angin kencang, seolah berdiri sendiri sebagai peristiwa fisik. Padahal mungkin ada sebab batiniah: kita lupa menyapa, lupa meminta izin, lupa memberi salam.

Memberi salam bukan hanya kepada sesama manusia. Dalam kearifan lama, salam juga ditujukan kepada bapak langit dan ibu bumi. Salam kepada penjaga yang tak kasatmata, kepada Rijalullah, Rijalul Ghaus, Rijalul Ghaib, Ahlul Badri, dan roh para leluhur.

Salam kepada roh ni Ama Ine, kepada roh Awan Anan, kepada roh Datu, roh Muyang, roh Entah, hingga roh Rekel sampai ke atas dari pihak Ama maupun dari pihak Ine. Itu bukan kemusyrikan, melainkan etika penghormatan terhadap mata rantai kehidupan.

Ketika salam ditanggalkan, hubungan berubah menjadi penguasaan. Hutan ditebang tanpa permisi, tanah digali tanpa doa, air dialirkan tanpa rasa syukur. Alam yang semula sahabat berubah menjadi pengingat keras melalui bencana.

Maka Assalamualaikum Tanoh Gayo adalah upaya memulihkan adab. Ia adalah kesediaan merendahkan hati di hadapan ciptaan Tuhan. Dengan salam, kita mengakui keterbatasan dan meneguhkan tanggung jawab menjaga keseimbangan.

Jika tanah ini hidup, maka ia layak dihormati. Jika ia terluka, kita pun merasakan akibatnya. Semoga salam yang kita ucapkan bukan hanya di bibir, melainkan menjelma menjadi sikap, agar Tanoh Gayo tetap teduh dan diberkahi.

(Mendale, Pebruari 21, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.