Oleh Mahbub Fauzie (Kepala KUA Kec. Atu Lintang Aceh Tengah)
Ayat yang tidak asing bagi kaum muslimin kembali menyapa kita setiap memasuki bulan suci. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman pada Surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ramadhan 1447 H/2026 M mempertemukan kita lagi dengan bulan mulia—bulan penuh keberkahan, pengampunan, dan pembebasan dari api neraka. Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan undangan ilahiah untuk memperbarui iman, memperhalus akhlak, dan memperkuat kepedulian sosial.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah jiwa. Dalam sahur ada keberkahan; ia melatih disiplin dan kesiapan ruhani. Dalam menahan lapar ada keberkahan; ia menumbuhkan kesabaran dan pengendalian diri. Dalam berbuka ada keberkahan; ia mengajarkan syukur atas nikmat yang sering kali kita anggap biasa.
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, dan puasa memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah. Artinya, Ramadhan adalah momentum akselerasi kebaikan. Sedekah menjadi ringan, tilawah terasa menenangkan, doa lebih khusyuk, dan silaturahmi semakin hangat.
Lebih dari itu, puasa menumbuhkan empati. Ketika perut terasa kosong, hati belajar memahami mereka yang kekurangan. Dari sinilah lahir solidaritas sosial—kepedulian yang tidak berhenti pada rasa iba, tetapi bergerak menjadi aksi nyata. Ramadhan mengajarkan bahwa kesalehan individual harus beriringan dengan kesalehan sosial.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, Ramadhan hadir sebagai jeda spiritual. Ia mengajak kita menata ulang orientasi hidup: dari sekadar mengejar dunia menuju menyeimbangkan dunia dan akhirat. Puasa melatih kejujuran—sebab hanya diri dan Allah yang mengetahui apakah kita benar-benar menahan diri. Puasa membentuk integritas batin.
Tentu, banyak hikmah yang dapat kita petik. Dari sabar lahir ketenangan. Dari pengendalian diri lahir kebijaksanaan. Dari kebersamaan lahir persaudaraan. Ramadhan bukan hanya tentang sebulan beribadah, tetapi tentang bagaimana nilai-nilainya hidup dalam sebelas bulan berikutnya.
Mari kita bersamai Ramadhan ini dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat. Semoga puasa kita bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjadi jalan menuju takwa. Semoga amal kita dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni, dan hidup kita dipenuhi keberkahan.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita. Aamiin.[]





