Menguatkan Empati dan Solidaritas Sosial di Bulan Ramadhan

oleh

Oleh: Ahmad Syafiq Sidqi (Mahasiswa Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang sarat makna. Ia bukan sekadar ritual tahunan yang datang dan pergi, melainkan ruang refleksi yang mengajak manusia menata ulang arah hidupnya.

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, Ramadhan tampil sebagai pengingat bahwa manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ada dimensi spiritual yang harus dirawat, dan ada tanggung jawab sosial yang mesti dijaga.

Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa dalam firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۝١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana untuk menumbuhkan takwa. Takwa bukan hanya relasi vertikal kepada Allah, tetapi juga relasi horizontal kepada sesama manusia. Takwa melahirkan kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial.

Puasa mengajarkan kita menahan diri. Lapar yang dirasakan sepanjang hari adalah latihan spiritual yang mendalam. Ia menyentuh kesadaran batin, membangkitkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan. Apa yang kita rasakan hanya sementara, tetapi bagi sebagian orang, kekurangan adalah realitas sehari-hari. Dari sinilah empati lahir.

Rasulullah SAW juga menggambarkan Ramadhan sebagai musim kebaikan dalam sabdanya:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan.” (HR. Bukhari No. 3277, Muslim No. 1079)

Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum besar untuk memperbanyak amal kebaikan. Gangguan spiritual diperingan, peluang pahala dilipatgandakan. Dalam suasana seperti ini, manusia didorong untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama.

Empati yang lahir dari puasa tidak boleh berhenti pada perasaan. Ia harus menjelma menjadi solidaritas nyata. Tradisi berbagi takjil, menunaikan zakat fitrah, memberi santunan kepada anak yatim, hingga gerakan sosial di masjid dan lingkungan masyarakat adalah manifestasi konkret dari nilai tersebut. Ramadhan membentuk ruang kebersamaan yang mengikis egoisme dan menumbuhkan kepedulian.

Solidaritas dalam Islam bukan sekadar anjuran moral, tetapi bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari No. 6011, Muslim No. 2586)

Hadis ini menegaskan bahwa solidaritas adalah ciri komunitas beriman. Ramadhan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif tersebut.

Anak rantau yang berbuka bersama teman, masyarakat yang bergotong royong menyiapkan hidangan di masjid, hingga komunitas pemuda yang menggalang donasi, semuanya adalah potret kecil dari ukhuwah yang hidup.

Namun Ramadhan juga mengandung tantangan. Ia mengingatkan agar ibadah tidak berhenti pada ritual simbolik. Berbagi tidak boleh sekadar formalitas.

Puasa tidak boleh sekadar menahan lapar tanpa menahan amarah, dusta, dan keserakahan. Hati yang dibersihkan oleh puasa seharusnya melahirkan tindakan yang jujur dan adil.

Di tengah berbagai krisis sosial dan ketimpangan yang masih terasa, Ramadhan semestinya menjadi energi kolektif untuk membangun masyarakat yang lebih peduli. Dari lapar menuju empati, dari empati menuju solidaritas—itulah perjalanan spiritual yang ditawarkan bulan suci ini.

Kemenangan Ramadhan bukan hanya tentang mampu menahan diri hingga waktu berbuka, tetapi tentang keberhasilan menghadirkan empati dalam kehidupan nyata. Jika setelah Ramadhan kita menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih jujur, dan lebih ringan tangan membantu sesama, maka di situlah makna puasa menemukan kesempurnaannya.

Ramadhan adalah madrasah hati. Ia mendidik manusia agar kesalehan individual bertemu dengan kesalehan sosial. Dan dari sanalah lahir masyarakat yang lebih damai, adil, dan penuh kasih. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.