Oleh : Salman Yoga S*
Silaturahmi menyambut bulan Ramadhan (Ulen Pasa) adalah tradisi khair dalam Islam dan dalam budaya Gayo. Kebisaan ini juga terdapat di berbagai daerah yang berbasis Islam nusantara seperti tradisi munggahan di Jawa dan Sunda yang esensinya saling bermaafan dan membersihkan hati sebelum ibadah setahun sekali itu.
Dalam pandangan sejumlah ulama sikap saling maaf-maafan pada hari terakhir Sya’ban sangatlah dianjurkan untuk menjaga hubungan baik dan saling memaafkan sebagaimana pesan surat An-Nisa ayat 36 Al-Qur’annul Karim sebagai pengantar agar ibadah puasa lebih khusyuk dan hikmat.
Selain itu Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang tidak mau menyambung tali silaturahmi – barangsiapa bahagia menyambut Ramadhan Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka. “.
Bentuk umum dalam tradisi khair ini ada yang berupa pertemuan santai, doa bersama, saling bersilaturrahmi, saling berbagi dengan kegiatan reflektif lainnya untuk mempererat persaudaraan sebelum memasuki bulan suci.
Hal lain kerap dilakukan oleh masyarakat adalah kegiatan bersih-bersih, baik sarana ibadah, makam kerabat, rumah hingga jalan dan selokan di lingkungan tempat tinggal. Kuliner khas dalam aktivitas ini di Gayo adalah lepat, sebuah menu umum dan mengakar selain menu-menu lainnya seperti hidangan serba meat dishes.
Ada sejumlah efek psikologis positif bagi mereka yang bersilaturahmi dan saling bermaafan sebelum Ramadhan. Diantaranya adalah melepaskan rasa rindu, mengasah rasa empati, menenangkan pikiran dan memperkuat jalinan sosial, solidaritas dan lain sebagainya.
Sejumlah seniman Gayo dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan 1447 melakukan tradisi khair ini dengan mengunjungi para seniman senior Gayo, baik seniman didong, seniman musik, sastra hingga seniman dengan keahlian dalam beberapa genre.
Diantara seniman tersebut adalah Ceh Irfan, Ceh Utih Buraq (yang beberapa waktu lalu mengalami lakalantas), Ceh Amit, Ceh Daud Kala Empan, Ceh Ali Amran dan lain-lain.
Ada juga seniman senior yang termasuk pelopor musik Gayo modern Ibrahim Bencek di Kampung Lemah Burbana.
Para seniman-seniman Gayo ini menyampaikan salam kepada masyarakat untuk saling menghargai, saling memamafkan dalam menyambut dan mengisi bulan ramadhan 1447 tahun ini.
Pesan ini disampaikan oleh Ibrahim Bencek yang sedang terbaring diperaduannya ketika penulis hadir bersilaturrahmi.
“Salam untuk semua dan selamat menyambut bulan penuh perkah ini,” kata Ibrahim Bencek yang dikenal aktif bermusik sejak bergabung dengan Group Musik Gambus PGAN Takengon sejak 1970 di Takengon.
Ibrahim dikenal dengan alat musik gesek berupa biola yang pernah berkolaborasi dengan Mahlil, Baharuddin Sabang, Ramlah, Ceh M. Din, Sri Murni dan sejumlah vokalis Gayo lainnya pada tahun-tahun awal kebangkitan musik Gayo modern.
Hal yang sama juga disampaikan Ceh Ali Amran, Ceh Irfan Dewantara, Ceh Utih Buraq, Ceh Amit Kala Laut, Ceh Daud Kala Empan, Ceh Mail Bayakku, Purna K Ruslan, Yus Oloh Guwel, Ervan Ceh Kul, Kabri Wali dan sejumlah seniman senior lainnya.
“Kami sangat bangga dikunjungi dan saling bersilaturrahmi. Semoga kita semua dapat khusuk menjalani ibadah puasa tahun ini”, kata Ceh Utih Buraq.
Makna silaturahmi bagi seniman tidak sebatas saling berkomunikasi dari hati ke hati, tetapi tidak jarang juga saling mengutarakan ide, karya terbaru dan agenda-agenda fastabikul khaira ke depan dalam lingkup budaya Gayo.
Lebih dari sekedar “bejamu”, silaturahmi antar seniman Gayo juga berarti semacam konsulidasi krativitas juga karya-karya dalam merefleksikan hidup dan kehidupan yang lebih harmoni.
Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits, “Bukanlah bersilaturahmi orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahmi adalah yang menyambung apa yang putus.” (HR Bukhari). []






