Oleh : Fauzan Azima*
Menjelang Ramadhan, orang biasanya sibuk membersihkan hati. Namun ada juga yang sibuk memoles diri. Dalam bahasa Gayo disebut petukel mubungei diri, labu tanah berhias bunga, kiasan bagi mereka yang gemar memuji diri sendiri.
Pada malam Dies Natalis HMI ke-79 di Gedung Ummi, Pendopo Bupati Aceh Tengah, Pak Oga tampil penuh percaya diri. Mikrofon berubah menjadi cermin. Satu per satu kisah keberhasilan dipantulkan dengan nada bangga.
Soal daging megang, disebutkan Aceh Tengah memperoleh Rp8 miliar berkat lobi piawai. Bireuen dibandingkan hanya Rp2 miliar. Angka-angka melayang di udara, membuat hadirin antara kagum, heran, dan sibuk menghitung makna.
Perbandingan itu terdengar seperti promosi keberhasilan pribadi. Seolah pesan tersiratnya sederhana: kalau bukan saya yang melobi, belum tentu dapat sebanyak ini. Publik tersenyum, antara percaya, terhibur, atau sekadar menahan tawa.
Belum selesai soal anggaran, jabatan Kadis pun disinggung. Katanya, semua tergantung siapa yang melobi. Kalimat itu meluncur ringan, namun berat di pikiran. Birokrasi terdengar seperti pasar takjil menjelang berbuka.
Mahasiswa yang hadir mungkin berharap gagasan segar tentang masa depan daerah. Namun yang didapat justru kuliah kilat tentang seni melobi dan pentingnya jaringan. Ramadhan pun tinggal hitungan hari.
Begitulah, kita hidup di zaman ketika keberhasilan harus diumumkan dan dibandingkan. Padahal menjelang puasa, yang dianjurkan justru meredam riya. Sebab bunga berlebihan kadang membuat labu lupa bentuk aslinya.
(Mendale, Pebruari 12, 2026)







