Oleh : Fauzan Azima*
Di saat banyak orang stres memikirkan karier, cicilan, dan validasi media sosial, Amet justru terlihat santai. Padahal profesinya hanya pedagang kambing. Tanpa podcast, tanpa seminar, tanpa motivasi berbayar.
Amet tinggal di Simpang Balik, Bener Meriah. Hidupnya sederhana, nyaris tanpa drama. Yang sering bikin orang melongo, ia punya empat istri. Bukan flexing, bukan konten, sekadar jalan hidup yang dijalani.
Kalau ditanya rahasia hidupnya, Amet selalu menjawab tenang, “but lage but, seumayang bek tingai.” Kerja saja yang rajin, tapi sembahyang jangan ditinggal. Simpel, praktis, tanpa istilah manajemen modern.
Hobinya juga unik, mengotak-atik angka. Bukan saham, bukan kripto. Ia menamakan mempertajam mata bathin. Hitung menghitung, lalu berhenti tepat waktu sebelum stres ikut dihitung dan kepalanya berubah jadi kalkulator rusak.
Suatu hari, 12 Januari 2019, saya menghadiri undangan Kementerian Luar Negeri di Provinsi Jambi. Negara-negara bekas konflik dikumpulkan, membahas peluang hidup baru, dari kombatan menuju kebun sawit.
Hadir para perwakilan mantan kombatan. Ada Tengku Jamaludin (sekarang Ketua BRA), mantan jubir Wilayah Peureulak Tengku Kafrawi, mantan jubir wilayah Lhok Tapaktuan Tengku Khartiwi Daud, dan saya dari Linge. Kami duduk rapi, serius, berusaha tampak penting dan berwibawa.
Sampai akhirnya perhatian kami serempak tertuju pada sebuah plang sederhana di lokasi acara: “Tiga Dara Menjual Kambing.” Seketika suasana forum terasa lebih jujur daripada pidato panjang penuh istilah asing.
Meskipun plang bertuliskan; tiga dara menjual kambing, kami lihat sekelilingnya tidak ada anak dara, yang ada hanya bapak tua renta dan istrinya yang renta juga.
Di situlah saya teringat Amet. Dunia boleh ribut soal konflik dan rekonsiliasi, tapi hidup tetap harus berjalan. Kambing tetap dijual, perut tetap diisi, dan sembahyang tetap ditegakkan.
Seperti nasihat Amet yang terkenal itu, “hidup harus berani, jangan takut, mati tanam.” Kalimat pendek, tanpa slide presentasi, tapi efeknya langsung: auto diam, auto mikir, auto sadar diri.
Dari Amet kita belajar, bahagia bukan soal terlihat sukses atau viral. Bahagia itu tidak ribet, tidak sibuk pencitraan, cukup waras, shalat jalan, kerja jujur, dan hati dibiarkan tenang.
(Mendale, Pebruari 6, 2026)






