Bantuan Tidak Abadi, Urang Gayo Harus Siapkan Ketahanan Pangan

oleh
Peger Keben (Ist)

Oleh : Fauzan Azima*

Musibah yang menimpa tanah Gayo bukan sekadar bencana alam, melainkan teguran Ilahi agar manusia kembali mengingat keterbatasan, menata ikhtiar, dan memperkuat tawakal setelah kesombongan sering bersembunyi dalam hidup sehari-hari kita.

Bantuan yang datang hari ini, dari relawan dan pemerintah adalah rahmat, namun rahmat tidak boleh memanjakan. Islam mengajarkan syukur dengan usaha, bukan pasrah menunggu, karena tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.

Yakinlah, bantuan akan ada batasnya. Ketika logistik berhenti, iman dan kerja akan diuji. Maka mumpung ada waktu, siapkan diri sebelum pintu kemudahan tertutup oleh keadaan, krisis, dan perubahan zaman global.

Ketahanan pangan adalah jihad sunyi di masa sulit. Menanam makanan berarti menjaga kehidupan, melindungi keluarga dari lapar, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan yang rapuh dan mudah hilang sewaktu-waktu nanti saja.

Tanam apa saja yang bisa dimakan dan dijual. Sedikit demi sedikit menjadi cukup. Rasul mengajarkan, kerja tangan sendiri lebih berkah daripada menunggu belas kasihan orang lain, dalam hidup sehari-hari kita.

Secara sosial-ekonomi, dunia sedang goyah. Cuaca ekstrem, harga naik, konflik global mengancam pangan. Negara pun terseok, maka kampung harus menguatkan diri sendiri melalui kerja kolektif, kebun bersama, dan solidaritas nyata.

Jangan berharap keselamatan datang dari luar selamanya. Allah tidak mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri melalui usaha, disiplin, doa, dan kesadaran kolektif berkelanjutan bersama.

Nilai Gayo mengajarkan alang tulung berat bebantu. Dalam iman, itu wujud ukhuwah. Saling menolong bukan pilihan, melainkan kewajiban moral dan spiritual demi keselamatan bersama menghadapi ujian hidup yang panjang ini.

Salah betegah benar bepapah adalah saling mengingatkan. Kalau gaya hidup hedonisme salah satu penyebab bencana, maka siapapun dia harus mencegahnya menurut kuasa yang dimiliki agar kehancuran tidak menular diam-diam dalam kehidupan sosial, keluarga, kampung, dan masa depan bersama.

Apa pun yang terjadi kelak, perang, krisis, atau bencana, pastikan dapur tetap menyala. Dengan iman, kerja, dan pangan, martabat manusia terjaga serta kehidupan Gayo tetap berdiri tegak menghadapi zaman sulit.

(Mendale, Januari 31, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.