Oleh : Fauzan Azima*
Dari Gayo kita dipaksa bercermin keras, bencana hidrometeorologi 2025 bukan sekadar peristiwa alam, melainkan akumulasi kelalaian manusia, ketika peringatan diabaikan, keserakahan dimaklumi, dan nurani perlahan dibungkam bersama seluruh masyarakat luas.
Meski bernama Bencana Hidrometeorologi Aceh 2025, fakta pahit menunjukkan sebagian besar korban berasal dari Tanah Gayo, sehingga wajar bila tragedi ini disebut Bencana Gayo 2025 sebagai peringatan kolektif bagi kita.
Wilayah mayoritas urang Gayo menjadi pusat derita, dari Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Ketambe, Lokop Serbejadi, hingga pelosok Aceh Timur, Tamiang, dan Aceh Utara yang kini terus terluka parah.
Hampir tujuh puluh persen bencana menghantam masyarakat Gayo, sebuah angka yang seharusnya mengguncang kesadaran kolektif, bukan diterima pasrah seolah takdir tanpa sebab manusia yang nyata tampak di sekitar kita bersama.
Belum usai tanggap darurat, kebakaran datang menyusul, lalu bencana sosial bermunculan, pencurian meningkat, nyawa melayang, menandakan krisis bukan hanya alam, tetapi juga moral masyarakat yang kian rapuh, gelap, dan berbahaya.
Dalam perenungan panjang, jawaban pahit muncul, gaya hidup hedonisme tumbuh subur, mengabaikan batas, mengeksploitasi alam, memuja kesenangan, dan menyingkirkan nilai tanggung jawab bersama demi kepentingan sesaat, egois, rakus dan serakah.
Pelakunya mungkin segelintir, namun pembiaran menjadikannya wabah, karena masyarakat memilih diam, menormalisasi kemewahan berlebihan, hingga dampaknya dirasakan bersama saat bencana tak terbendung datang menghancurkan, melumpuhkan, menyisakan duka panjang mendalam kolektif.
Lebih menyedihkan, peringatan nyaris tak terdengar, bahkan ulama dan tokoh adat terkesan bungkam, ketika hedonisme merajalela, seolah takut menegur demi kenyamanan sosial semu yang menipu, melemahkan, merusak, iman, akal
dan nurani.
Padahal saling mengingatkan adalah kewajiban moral, sebab bencana bukan hanya urusan pemerintah, melainkan konsekuensi pilihan hidup yang dibiarkan menyimpang tanpa koreksi bersama oleh masyarakat, pemuka, elite, cendekia, ulama, praktisi adat.
Jika Gayo ingin selamat, hentikan hedonisme, pulihkan etika, tegakkan keberanian menegur, jaga alam, karena bencana sejati lahir dari rusaknya perilaku manusia sendiri yang lalai, sombong, tamak, abai, dan lupa batas.
(Mendale, Januari 30, 2026)





