Tor Monitor Ibu Ketua

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Legislatif konon rumah gagasan, tetapi kini menjelma kios plakat, sibuk mengukur kehormatan dengan akrilik tipis, lupa bahwa mandat rakyat bukan dekorasi, melainkan kerja sunyi mengubah kebijakan publik nyata setiap hari ini.

Pembagian plakat dianggap prestasi, padahal tugas wakil rakyat menyusun qanun, mengawal anggaran, mengawasi kuasa, bukan berkeliling menyerahkan benda murah yang bahkan penerimanya tersipu, tersinggung, lalu tersenyum terpaksa demi kamera media sosial.

Di Jamur Konyel dan Jamat listrik padam pascabencana, tetapi akal sehat lebih gelap, sebab biaya plakat seharusnya berubah menjadi panel surya, memberi cahaya, bukan kilau plastik sekali foto yang menyelamatkan kehidupan warga setempat.

Dataran tinggi menunggu qanun reklamasi, sampah, tata niaga kopi, serta pansus jasa medis, namun panggung legislatif justru dipenuhi seremoni ringan, menunda keputusan berat yang menentukan hajat hidup orang banyak hari esok.

Ketika ide menipis, pengadaan diperkecil, plakat lebih murah dari satu rim kertas bekas, proyek tetap jalan, nurani berhenti; kreativitas miskin disulap menjadi agenda, lalu disebut inovasi kelembagaan demi laporan tahunan berkilau kosong.

Orang terhormat tak butuh plakat busuk; kehormatan lahir dari keberanian mengambil keputusan sulit, menolak seremonial, dan memilih kerja sunyi yang manfaatnya terasa lama, bukan sekejap bagi rakyat luas lintas generasi mendatang.

Publik menilai kapasitas kerja diuji, bukan divalidasi plakat; foto bersama tak menyelesaikan krisis, hanya menyusun narasi, sementara substansi tertinggal, terperangkap plastik penghargaan pesanan yang dibungkus senyum resmi palsu di depan kamera.

Gaya ibu ketua tebar pesona dipersoalkan, bukan karena pendidikan setingkat SLA, melainkan prioritas; saat relawan berkubang lumpur, panggung memilih kilap, meninggalkan kerja pemulihan mandiri pascabencana yang seharusnya dipercepat bersama oleh negara hadir.

Tulisan ini sederhana: hentikan plakat, mulai kebijakan; matikan kamera, nyalakan listrik; ringankan seremoni, beratkan tanggung jawab; agar legislatif kembali relevan, bukan sekadar vendor akrilik yang rajin berfoto tanpa hasil nyata publik.

Jika masih ragu, tanyakan rakyat: mereka butuh aturan adil, layanan pulih, cahaya menyala; bukan plakat plastik, bukan tepuk tangan, melainkan keputusan berani, segera, berpihak pada korban dan masa depan daerah ini.

(Mendale, Januari 28, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.