Buntut Mogok Kerja Nakes RSU Datu Beru Takengon, Ada Pasien yang Dirawat di Selasar

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : Aksi mogok kerja yang dilakukan sejumlah tenaga kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon mulai berdampak serius terhadap pelayanan kesehatan.

Kondisi paling memprihatinkan terlihat pada pasien yang membutuhkan perawatan intensif, termasuk anak-anak, yang terpaksa dirawat di selasar rumah sakit akibat keterbatasan layanan.

Pantauan di ruang rawat inap Renggali, yang dikhususkan bagi pasien anak, menunjukkan andanya pasien yang harus menjalani perawatan di lorong atau selasar ruangan.

Ironisnya, pada lantai dua gedung tersebut masih terdapat ruang rawat inap yang kosong, namun tidak dapat difungsikan karena minimnya tenaga medis akibat aksi mogok kerja.

Situasi ini memunculkan keprihatinan mendalam dari masyarakat. Pasien dan keluarga yang datang dengan harapan memperoleh layanan kesehatan yang layak justru harus menghadapi kondisi serba terbatas, di tengah situasi sakit yang membutuhkan penanganan cepat dan manusiawi.

“Yang menjadi korban dari aksi mogok kerja ini jelas masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis,” ujar Rizuan Masyarakat Aceh Tengah, Minggu malam (25/1/2026).

Menurutnya, apa pun persoalan yang terjadi di internal manajemen rumah sakit, seharusnya tidak mengorbankan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Ia menegaskan, pelayanan terhadap pasien semestinya menjadi prioritas utama, terlebih bagi tenaga kesehatan yang terikat oleh etika profesi dan nilai kemanusiaan.

“Terlepas dari apa pun masalah di manajemen RSUD Datu Beru, pelayanan kepada masyarakat yang sakit adalah hal paling utama. Kondisi ini justru menunjukkan hilangnya kepekaan dan hati nurani,” katanya.

Rizuan juga berharap persoalan yang memicu mogok kerja dapat diselesaikan melalui musyawarah dan dialog yang konstruktif. Menurutnya, aksi yang berdampak langsung pada keselamatan pasien tidak seharusnya terjadi di institusi pelayanan publik seperti rumah sakit.

“Masalah bisa dibicarakan, tetapi jika aksi ini terus mengorbankan masyarakat, maka perlu evaluasi tegas. Masih banyak tenaga medis lain yang memiliki empati dan hati nurani untuk melayani,” tegasnya.

Ia juga berharap pemerintah daerah segera turun tangan agar pelayanan kesehatan kembali berjalan normal dan hak pasien dapat terpenuhi secara layak.

[Darmawan]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.