TAKENGON-LintasGAYO.co : Sejak bencana longsor dan banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, sejumlah kampung di wilayah pedalaman Aceh Tengah hingga kini masih terisolasi akibat terputusnya akses jalan provinsi.
Ajinawawi, mantan pegawai Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh, mengatakan salah satu ruas jalan yang belum dapat dilalui kendaraan roda empat adalah jalan Bintang–Simpang Kraft. Padahal, jalan tersebut merupakan jalur provinsi yang memiliki peran penting sebagai urat nadi ekonomi masyarakat.
“Ruas jalan Bintang–Simpang Kraft sampai hari ini masih terisolasi. Banyak kendaraan roda empat milik warga terjebak di dalam karena jalan belum terbuka,” ujar Ajinawawi, Kamis, 22 Januari 2026.
Ia menjelaskan, Dinas PUPR Aceh sebelumnya sempat menurunkan empat unit alat berat jenis ekskavator untuk membuka akses jalan yang tertimbun longsor. Namun, pekerjaan tersebut tiba-tiba dihentikan setelah adanya perintah dari Kepala Dinas PUPR Aceh.
“Alat berat sudah bekerja dan masyarakat sangat berharap jalan segera terbuka. Tapi tiba-tiba dihentikan. Ini sangat disayangkan, karena kebutuhan masyarakat sangat mendesak,” katanya.
Menurut Ajinawawi, jalan tersebut merupakan sentra aktivitas ekonomi warga, termasuk jalur distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok. Terhambatnya akses jalan berdampak langsung pada perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Atas kondisi tersebut, masyarakat berharap Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), dapat turun tangan dan segera memerintahkan Dinas PUPR Aceh untuk kembali menurunkan alat berat guna membersihkan material longsor dan sisa banjir bandang.
“Kami mohon kepada Gubernur Aceh agar segera memerintahkan Kadis PUPR Aceh untuk bekerja maksimal membuka kembali akses jalan ini. Jangan biarkan masyarakat terus terisolasi,” tegas Ajinawawi.
Ia menambahkan, percepatan pembukaan akses jalan sangat penting untuk memulihkan aktivitas ekonomi dan memastikan keselamatan serta mobilitas warga di wilayah terdampak bencana.
[FA]







