Oleh : Fauzan Azima*
Di dataran tinggi ini, politik rupanya tak cukup dijelaskan dengan teori kekuasaan. Ia lebih cocok dipahami lewat kartun klasik: Tom and Jerry. Bedanya, yang kejar-kejaran bukan kucing dan tikus, melainkan pejabat dan bayangannya sendiri.
Pak Ucin, demikian ia dikenal, adalah tokoh penting di panggung daerah. Ia naik ke kursi empuk bersama atasannya, satu paket, satu baliho, satu senyum saat kampanye. Namun setelah pelantikan, chemistry itu luntur seperti cat air di musim hujan.
Di ruang publik, sasaran kemarahan warga selama ini hanya satu: sang atasan. Wajar, sebab dialah wajah kekuasaan. Pak Ucin sebagai timbalan lebih sering berdiri di balik tirai, mengatur suara, menghaluskan nada, dan sesekali menyulut api kecil.
Namun politik selalu punya episode tak terduga. Kali ini, batu yang dilempar warga mental ke kepala Pak Ucin. Bukan karena kebijakan besar, tapi karena kalimat kecil yang terdengar pongah di telinga kami.
Menariknya, di balik layar, sang atasan yang biasanya jadi tameng justru berubah jadi sutradara dadakan. Dengan suara lirih dan senyum diplomatis, ia berbisik kepada beberapa orangnya: “Hajar saja Pak Ucin.” Sebuah kalimat pendek yang lebih tajam dari bayonet.
Terkait : Wabup Muchsin Hasan Minta Maaf
Maka mulailah drama itu. Tim sukses, yang sejak lama menjadi kantong tinju kekuasaan, kini mendadak dianggap meriam. Mikrofon bukan lagi alat bertanya, tapi pentungan moral. Rilis pers mohon maaf berubah jadi peluru nyasar.
Pak Ucin pun terkejut. Ia lupa satu hal penting dalam politik lokal: yang paling berbahaya bukan oposisi, melainkan kawan satu tiket yang sudah bosan jadi sasaran.
Dalam permainan Tom and Jerry versi dataran tinggi, hari ini Tom pura-pura tidur sambil mengkhayalkan tikus betina dengan setelan perawat dan membiarkan Jerry dikejar anjing kampung sampai babak belur.
Dan Tim Sukses? Mereka tetap Tim Sukses. Dicari saat dibutuhkan, disalahkan saat bersuara. Bedanya, kali ini mereka tahu: konflik ini bukan soal etika semata, melainkan perebutan posisi di balik meja kekuasaan.
Terkait : Pak Ucin dan Menara Imajinasi
Di dataran tinggi ini, cerita film kartun ternyata tampak nyata. Bukan sekedar hiburan pelepas lelah, tapi arah politik kekuasaan. Dan yang paling sering tertawa bukan penonton, melainkan sutradaranya.
(Mendale, Januari 22, 2026)





