Antara Kampus dan Pasar

oleh

Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Abad ke-18 atau disebut dengan masa renaissance, di mana masyarakat Barat menjadikannya sebagai awal dari era modern, yaitu era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau disebut dengan era humanisme dan era rasional, artinya semua kajian, penelitian, temuan dapat dijawab dengan menggunakan asas rasional.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara Barat tidak dapat dibendung sampai pada tingkat kemajuan yang hampir mengalahkan kemajuan pemikiran manusia itu sendiri.

Namun karena teknologi adalah buatan manusia, maka kemajuan teknologi yang melampaui kehebatan manusia itu sendiri hanya sekadar sebuah “pernyataan”.

Di balik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat Barat pernah mengalami suatu peristiwa yang menjadikan mereka dinina-bobokan atau dilalaikan oleh teknologi, sehingga mulai dari anak-anak sampai kepada orang dewasa, yang tidak berpendidikan sampai dengan orang yang berilmu disibukkan dengan permainan sampai mereka luput dengan aktivitas yang seharusnya dilakukàn.

Kejadian seperti ini disebabkan karena kebutuhan-kebutuhan manusia semuanya bisa dijawab oleh teknologi. Mereka yang memerlukan jawaban tentang keagamaan maka cukup dengan mengetik di keyboard laptop atau HP, maka jawaban segera tersaji. Mereka yang menginginkan obat-obatan terhadap berbagai penyakit, cukup mengetik di keyboard maka jenis obat yang dibutuhkan akan muncul di layar.

Mereka yang ingin membangun rumah dapat melihat desainnya dilayar laptop atau HP. Ini berarti manusia tidak msmerlukan lagi kepada ahli agama (ulama/pastur), dokter ( ahli medis), dan mereka juga tidak perlu lagi kepada para insinyur.

Dan orang-orang yang sedang duduk dibangku pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi, bila ada pertanyaan dari guru atau dosen maka semua jawaban dapat diperoleh melalui HP. Ini juga artinya pada era ini manusia tidak memerlukan lagi kepada guru atau dosen yang selama ini sebagai tempat untuk bertanya.

Kondisi seperti ini yang terjadi di Amerika pada tahun 90-an mereka menganggap tidak ada lagi artinya ilmuwan, ahli kesehatan, ahli agama, dan tidak perlu lagi adanya guru, tenaga pendidik, atau dosen. Karena semua yang dikehendaki oleh mereka dapat ditemukan melalui teknologi, maka istilah matinya pakar sangat populer dalam masyarakat Barat (Amerika) pada tahun 90-an.

Kemudian mereka menyadari hal ini sehingga meninggalkan teknologi yang menina bobokan dan kembali kepada pola pikir bahwa teknologi adalah sarana atau alat, bukan merupakan tujuan.

Apakah masyarakat Indonesia saat ini telah meraih puncak kemajuan ilmu pengetahuan atau teknologi? Secara ilmu pengetahuan bisa dikatakan iya, namun dari sisi teknologi kita masih menggunakan produk yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi Barat.

Namun akibat dari penggunaan teknologi sama karena pada tahun 1990-an masyarakat Barat sudah mengalami apa kita alami sekarang.

Secara lebih khusus, kita bisa merasakan pengalaman-pengalaman selama mengajar di perguruan tinggi. Pada saat menjelaskan atau memberi materi kuliah, mahasiswa nampak kurang memperhatikan materi yang disampaikan.

Pada saat ditanyakan apakah mereka paham, mereka diam dan tidak memberi respon. Dan ketika diminta untuk bertanya tidak ada seorangpun yang bertanya. Karena dalam benak mereka semua yang dijelaskan dan ditanyakan ada dalam teknologi dan bisa dilihat kapan saja diperlukan.

Pada tahun 1990-an para pakar Barat menyamakan kampus dengan sebuah pasar. Mahasiswa yang kuliah diumpamakan dengan orang-orang yang berbelanja, sedangkan dosen diumpamakan dengan para penjual atau pedagang, dan kampus adalah tempat transaksi.

Kampus selalu berusaha agar para mahasiswa/ pembeli supaya banyak, para dosen/pedagang menjual apapun yang diinginkan oleh pembeli/ mahasiswa dan mahasiswa/ pembeli akan membeli apapun yang mereka inginkan walaupun dengan harga yang mahal.

Dari fenomena ini bisa dilihat bahwa tugas lembaga adalah mmperbanyak mahasiswa, sedangkan tugas dosen adalah memberikan ilmu dan nilai kepada mahasiswa.

Sedangkan ilmu dapat diperoleh Dari dosen dan teknologi, dan nilai hanya bisa diperoleh dari dosen. Apakah yang harus diberikan oleh dosen kepaca mahasiswa, ilmu atau nilai?

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.