Teknologi di Tangan Pola Pikir Tradisional

oleh

Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Dalam tulisan ini kita masih membahas tentang dua pola pikir. Pola pikir yang pertama adalah pola pikir tradisional dan pola pikir kedua adalah pola pikir teknologi. Pola pikir tradisional adalah cara berpikir secara tekstual yaitu memaknai sebuah ungkapan dengan arti dari lafaz atau memaknai sebuah lafaz dari segi bahasa (arti kamus).

Sedangkan pola pikir teknologi sering disebut dengan pola pikir modern yaitu pola pikir liberal, yang mengutamakan makna konteks atau makna dibalik lafaz.

Ketika kita membaca perkembangan peradaban dunia barat, mereka mulai merubah pemikirannya dari pola pikir tradisional menjadi pola pikir modern sejak abad ke-18, disebut dengan istilah Renaissance, yaitu pola pikir memanusiakan manusia.

Pola pikir ini mengalami kemajuan dan akhirnya sampai kepada pola pikir ilmu pengetahuan dan teknologi dimana mereka menjawab tantangan kehidupan dengan memanfaatkan teknologi.

Sedangkan dalam Islam abad ini dikenal dengan abad kemunduran yang disebut dengan masa jumud, masa ini merupakan masa sesudah mazhab yaitu masa kecemerlangan berpikir.

Pada masa jumud ilmuwan muslim tidak lagi berani untuk berpikir karena menganggap para mujtahid sebelum mereka telah memikirkan semua permasalahan dan tidak ada lagi celah untuk berpikir.

Selanjutnya banyak para ilmuwan muslim memulai kembali berfikir yaitu pada masa pembaruan, dengan tokoh-tokoh seperti Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Jamaludin Al Afghani dan lain-lain.

Kemudian dilanjutkan dengan masa modern dengan pola pikir liberal, sehingga banyak di antara pemikir-pemikir muslim menganut pola pemikiran yang liberal.

Pola pikir liberal di kalangan kaum muslimin masih menimbulkan tanggapan yang berbeda atau terjadinya kontroversi dalam menerima pola pikir liberal tersebut, sebagian masyarakat menerima pola pikir liberal dan sebagian lagi menolak sehingga belum ada kesepakatan untuk menuju kearah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolo

Bila kita melihat masyarakat Barat pada saat ini, mereka sudah hidup dalam masa peradaban yang sangat maju yaitu peradaban kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Semua sisi kehidupan digerakkan oleh teknologi, semua perbuatan dikerjakan oleh teknologi, semua pemikiran dilakukan atau dikerjakan oleh teknologi. Hampir tidak ada lagi sisi dalam kehidupan manusia yang lepas atau luput dari keberadaan teknolog.

Sementara sebagian negara termasuk Indonesia masih menganut pola pikir tradisional yang belum melangkah kepada pola pikir pembaruan atau pola pikir modern, apalagi pola pikir liberal atau teknologi. Sehingga keberadaan teknologi hanya dimanfaatkan secara tradisional.

Keberadaan AI yaitu kecerdasan buatan melalui alat-alat teknologi yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia, yang menganut prinsip modern yaitu cepat dan tepat.

Apapun yang diperlukan oleh manusia tidak lagi memerlukan waktu yang lama untuk menjawabnya atau untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Masyarakat tradisional menganggap sebuah kebenaran yang tidak perlu dikritisi.

Sebagai contoh bisa kita lihat fenomena keberadaan AI di kalangan akademisi baik itu kampus ataupun akademisi – akademisi lain, di satu sisi mereka dituntut untuk menggunakan AI dalam keperluan-keperluan pekerjaan, menulis karya ilmiah, skripsi, tesis, buku dan lain-lain.

Di sisi lain mereka yang menemukan atau mengambil bahan dari AI tersebut menganggap apa yang didapat merupakan satu kebenaran yang mutlak sehingga tidak perlu adanya analisis atau diskusi-diskusi dari apa yang mereka temukan tersebut. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.