Merubah Mindset

oleh
jamhuri

Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Bila kita melihat buku yang ditulis oleh Muhammad Abed Jabiri, yaitu Problematika Pemikiran Arab Kontemporer dan buku Formasi Nalar Arab, maka dari kedua buku ini bisa dipahami bahwa pemikiran Abed Jabiri hampir sama dengan pendapat Alvin Toffler yang membagi masa atau periode kehidupan masyarakat di dunia ini kepada tiga tahapan yaitu masaagraris, industri, dan informasi atau teknologi dan ilmu pengetahuan. Tahapan untuk berubah dari satu periode ke periode berikutnya

Merupakan keniscayaan bagi semua masyarakat yang hidup di dunia ini. Hanya saja banyak masyarakat yang masih tetap berjalan di tempat pada periode agraris, baik dalam tatanan kehidupan atau pola pemikiran.

Sedangkan dunia Barat sejak abad ke-18 mereka telah memasuki era modern atau abad ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Abed Jabiri pola hidup dan pemikiran masyarakat Arab masih pada masa agraris atau mempunyai pola pikir masyarakat petani.

Untuk merubah pola pemikiran atau nalar Arab Abed Jabiri mengajak masyarakat Arab dan kita semua untuk mengikuti jejak pola pikir atau tahapan berpikir dunia Barat. Ini merupakan suatu keniscayaan karena Barat sudah melalui tahapan ini mulai dari agraris, industri, kemudian melaju ke periode ilmu pengetahuan dan teknologi.

Banyak orang yang bertanya kepada beliau apakah kalau kita ingin menuju ke masyarakat maju harus mengikuti tahapan yang dilakukan oleh Barat.

Beliau mengatakan bahwa langkah atau laju perjalanan Barat merupakan tahapan-tahapan yang tidak ada salahnya, menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk mengikuti tahapan-tahapan tersebut.

Ketertinggalan pola pikir atau mindset masyarakat Arab disebabkan karena masa atau periode jumud dalam kajian sejarah Arab. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah perkembangan Arab, setelah munculnya masa mazhab sebagai periode kecemerlangan di dalam Islam, dilanjutkan dengan masa jumud atau masa beku.

Di mana pada masa ini orang-orang tidak ada lagi yang mau dan berani berfikir karena menganggap para ilmuwan fiqh yang ada pada masa mazhab sudah berpikir sempurna dan lengkap.

Untuk menuju kemajuan Abed Jabiri membagi pola penalaran kepada dua. Pertama adalah pola penalaran (mindset) yang tidak berubah dan harus dipertahankan, dan kedua adalah pola penalaran (mindset) yang harus diubah dan harus dicapai.

Hal-hal yang harus dipertahankan menurut beliau adalah yang berhubungan dengan kebudayaan seperti seni, bahasa, dan adat istiadat karena ini merupakan ciri khas dari satu negara atau satu daerah. Kalau tidak dipertahankan maka identitas dari suatu bangsa akan hilang.

Sedangkan mindset yang harus diubah adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya ilmu pengetahuan yang ada dalam masyarakat tradisional harus berubah menjadi ilmu pengetahuan yang mengarah kepada kemoderenan dan berorientasi masa depan.

Kemudian alat-alat yang digunakan dalam keseharian di setiap aspek kehidupan harus menggunakan dan berorientasi pada teknologi.

Teori yang kita gunakan dalam tulisan ini adalah teori yang besar yang merupakan teori yang digunakan oleh ilmuwan-ilmuwan di dunia seperti halnya Alvin Toffler, Abed Jabiri, Fazlur Rahman, dan lain-lainnya. Mungkin untuk kasus yang kita ambil dalam tulisan ini adalah kasus yang sangat kecil yang bisa kita jadikan sebagai satu partikel kajian dari partikel-partikel kajian yang banyak.

Dalam tulisan ini saya mengambil kasus terkecil dari tahapan kelambanan perkembangan pola pikir masyarakat yang ada di Gayo. Karena itu bagi kita sebagai pembaca boleh jadi kita akan memasukkan kajian-kajian atau contoh-contoh yang kita dapatkan pada daerah-daerah lain dalam skop yang lebih besar atau cakupan yang lebih luas dan memerlukan kajian yang sama.

Untuk selanjutnya kita mencoba melihat hal-hal yang memerlukan perubahan untuk membawa perubahan mindset yang ada di dalam masyarakat.

Cara mengubah mindset dari pola agraris ke industri dan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dilakukan melalui pendidikan, seminar, diskusi, kajian dan penelitian ilmiah.

Ketika berbicara tentang perubahan mindset berarti berbicara tentang perubahan pola pikir seseorang atau kelompok masyarakat. Perubahan pola pikir melalui pendidikan dimulai dari paling rendah sampai kepada tingkat pendidikan tinggi. Perubahan dalam bidang pendidikan mencakup

peran kepala sekolah atau pimpinan perguruan tinggi, arah kebijakan yang dituangkan dalam kurikulum yang dipelajari oleh peserta didik. Untuk hal ini mungkin tidak bisa kita nafikan adanya kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah atau arah-arah yang ingin dituju sehingga diharapkan masyarakat yang mendiami suatu daerah akan menjadi orang-orang yang berpikir ilmiah dan kehidupan mereka menggunakan teknologi sesuai dengan kemajuan dan kebutuhan.

Untuk melangkah dari pola pikir yang agraris ke masyarakat industri atau masyarakat mesin perlu pengajaran atau arahan dari tenaga pendidik yang berorientasi industri.

Apabila lembaga pendidikan yang diharapkan akan merubah mindset peserta didik sedangkan tenaga pendidiknya masih berorientasi agraris, maka diyakini pola pikir peserta didik tidak akan pernah berubah. Untuk itu perubahan pola pikir pendidikan sangat diperlukan.

Demikian juga halnya ketika kita menghendaki masyarakat hidup dan berpikir dengan pola modern, yaitu pola ilmu pengetahuan dan teknologi.

Maka pola pikir tenaga pendidik yang berorientasi kearah ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan keniscayaan yang dapat dilakukan melalui penelitian-penelitian, kajian-kajian ilmiah tentang apa yang dibutuhkan.

Ketika kita membaca buku yang ditulis oleh Fazlur Rahman yang berjudul Islam dan Modernitas, beliau banyak berbicara tentang perubahan orientasi dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah perubahan kurikulum yang dahulunya berorientasi pada masyarakat tradisional atau masyarakat agraris kemudian diubah menjadi kurikulum yang berorientasi modern. Upaya perubahan ini telah dilakukan di Universitas Al – Azhar Kairo.

Karena itu juga bila kita ingin menuju ke arah modern dengan merujuk kepada pendapat Fazlur Rahman tersebut maka kita harus merubah kurikulum lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan formal ataupun informal, harus berorientasi modern dengan mendirikan dan mengembangkan lembaga riset, pusat-pusat kajian sehingga melahirkan ilmu-ilmu modern dan teknologi yang dapat digunakan di semua lini.

Selanjutnya sering terdengar ungkapan bahwa seminar-seminar tidak diperlukan untuk merubah mindset, karena seminar biasanya hanya akan menghasilkan tumpukan kertas makalah. Padahal bila kita lihat dari sisi pentingnya perubahan mindset maka dengan menghadirkan para pakar dan ilmuwan pasti akan merubah pola pikir.

Walaupun kita ingin berubah menuju kemajuan secara cepat tetapi kita tidak bisa melakukan secara sembarangan. Kita perlu mengikuti apa yang dikatakan oleh Habib Jabiri bahwa kemajuan-kemajuan hanya dapat dilakukan dalam bidang-ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bersifat universal yang tidak mengenal batasan tempat dan waktu. Sedangkan kebudayaan seperti halnya seni, bahasa, adat, dan tradisi-tradisi yang merupakan ciri khas dari suatu bangsa harus dijaga dan dilestarikan. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.