Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Tanggal 27 Rajab atau bertepatan dengan tanggal 15 Januari 2026 merupakan hari peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Peringatan ini merupakan satu upaya untuk merenung, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memperjalankan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut.
Surat Al Isra’ ayat 1 yang mempunyai makna yaitu Maha Suci Allah yang telah memperjalankan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pada waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian ke Sidratul Muntaha.
Dalam perjalanan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menampakan tanda-tanda kebesaran Nya. Dari ayat ini kita bisa ambil sebuah pemahaman di mana Islam melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebenarnya telah melatih kita sebagai manusia atau khususnya umat Islam untuk berpikir dalam bentuk tidak adanya dimensi waktu dan tidak adanya dimensi tempat
Kenapa hal ini kita katakan seperti itu, karena tidak ada standar logika dan akal yang bisa memahami bahwa perjalanan Nabi Muhammad atau travelling yang dijalaninya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan ke Sidratul Muntaha kemudian kembali lagi ke bumi dalam waktu semalam.
Kejadian ini ketika diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada sahabat-sahabatNya bahwa beliau telah melakukan Isra’ dan Mi’raj dalam semalam, banyak di antara para sahabat yang muslim apalagi yang kafir tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah.
Namun ada sebagian sahabat yang mempercayai kejadian tersebut karena bagi mereka tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagi Rasulullah.
Karena memang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di samping memiliki dimensi kemanusiaan tetapi juga memiliki dimensi kerasulan yaitu orang yang paling dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam peristiwa travelling Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di àtas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperlihatkan kejadian-kejadian semenjak masa awal terciptanya alam sampai kepada berakhirnya alam ini, bahkan sampai kepada kejadian hari akhirat yaitu adanya surga dan neraka.
Hal ini kita bisa ketahui dari riwayat/hadis-hadis Rasulullah yang menceritakan tentang kejadian-kejadian masa lalu dan peristiwa-peristiwa pada masa yang akan datang sampai kepada siapa saja yang menjadi isi dari surga dan neraka.
Tujuan utama daripada Isra’ dan Mi’raj sebagaimana kita ketahui adalah menjemput shalat, yang awalnya diwajibkan sebanyak 50 kali, kemudian setelah mendengar saran dari Nabi Musa maka sampai akhirnya salat yang diwajibkan kepada kita hanya berjumlah 5 kali sehari semalam dalam tiga waktu (subuh, siang dan malam).
Kejadian travelling Rasulullah tersebut kita bisa membaca buku-buku tentang Isra’ dan Mi’raj di mana Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengimami nabi-nabi Allah mulai dari Nabi Adam sampai kepada Nabi Isa.
Dalam perjalanan setiap tingkatan mulai dari langit pertama sampai dengan langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu nabi-nabi Allah dimana mereka mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad dan mendo’akan keselamatan beliau untuk menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ketika saya membaca buku yang berjudul LIFE 3.0 Menjadi Manusia Pada Era Kecerdasan Buatan (Max Tegmark) yang berarti adalah kehidupan manusia dalam era kecerdasan buatan, saya terinspirasi atau mempunyai pikiran analogis bahwa terjadinya kecerdasan buatan yang kita sering dengar dengan istilah AI adalah merupakan inspirasi dari kejadian Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Sebagai contoh dapat kita temukan di dalam buku tersebut, mereka yang membuat AI memulai berpikir dengan cara bagaimana pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam waktu ribuan tahun bisa dikerjakan dalam waktu sekejab.
Bagaimana keuntungan dari usaha yang dilakukan dalam waktu ribuan tahun dapat dikumpulkan dalam sekejab. Makna sekejab di sini diartikan dengan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa bermodalkan duduk di atas kursi dengan satu buah laptop dan secangkir kopi. Apa yang dibutuhkan dalam masa yang lama bisa didapatkan dalam waktu yang sangat cepat, sesuai dengan prinsip teknologi yaitu cepat dan tepat.
Kita masih mengalami atau masih menghadapi kenyataan ketika kita menulis sebuah buku, skripsi, tesis ataupun disertasi, membutuhkan waktu yang lama untuk mencari sumber-sumber rujukan dengan membolak-balik setiap buku yang kita dapat, membuka setiap lembar hingga menemukan apa yang dibutuhkan.
Sehingga orang lain merasa heran kalau satu buah buku, disertasi, tesis, skripsi dapat diselesaikan dalam waktu enam bulan sampai satu tahun. Keheranan ini beralasan karena banyaknya buku-buku yang harus dicari di pustaka- putaka yang letaknya berjauhan ditambah lagi dengan keterbatan ketersediaan buku-buku.
Kita masih mengalami bagaimana menjadi seorang petani dalam masyarakat tradisional harus menanam padi dan menunggu selama 6 bulan untuk masa panen. Dan bila diuangkan hasil pertanian hanya mencapai sekitar 1, 2, atau 3 juta rupiah. Demikian juga dengan usaha-usaha pertanian lainnya.
Dalam era AI (4.0) yaitu kecerdasan buatan bukan hal yang tidak mungkin orang-orang dapat menulis satu buku dalam satu malam. Mereka dapat menyelesaikan skripsi, tesis, bahkan disertasi dalam waktu yang sangat singkat.
Karena ketika mereka mencari bahan-bahan di laptop dengan bermodalkan satu gelas kopi, ketika mereka mengetik kalimat apa yang diperlukan maka dalam detik itu juga akan tampil di layar laptop semua materi dari sumber rujukan.
Mereka yang menjalankan bisnis dengan menggunakan AI mendapatkan keuntungan milyaran dalam satu malam. Hal ini bisa memberi sebuah pemahaman kepada kita bahwa keberadaan AI pada era teknologi terinspirasi dari pengàlaman travelling (Isra’ mi’raj) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam waktu semalam. []





