Oleh : Fauzan Azima*
Orang-orang tua Gayo tempo dulu bukanlah peramal, melainkan perumus ilmu pasti. Dengan rumus itu mereka membaca arah masa depan. Pengetahuan tersebut lahir dari pemahaman dasar manusia sebagai cermin bumi.
Sejak awal peradaban, manusia kerap memandang dirinya sebagai pusat semesta. Namun kebijaksanaan tua dari berbagai tradisi justru berkata sebaliknya: manusia adalah cermin bumi, dan pada saat yang sama merupakan miniatur alam semesta itu sendiri.
Apa yang ada pada manusia, ada pula pada bumi; apa yang bergejolak dalam batin manusia, beresonansi ke seluruh jagat. Bumi akan merespons tiap perbuatan, fikiran dan perasaan kolektif manusia.
Tubuh manusia bukan sekadar kumpulan organ biologis. Ia adalah peta kosmis. Manusia memiliki bulu, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, dan darah. Tujuh lapisan ini bukan kebetulan, melainkan cerminan dari tujuh lapis bumi.
Bulu menyerupai vegetasi dan hutan yang tumbuh di permukaan. Kulit adalah tanah tempat kehidupan berpijak. Daging adalah lapisan bumi yang padat dan subur. Urat adalah sungai-sungai dan jalur energi yang mengalir. Tulang adalah pegunungan yang menopang. Sumsum adalah inti bumi yang menyimpan daya. Darah adalah magma dan air, sumber kehidupan sekaligus kehancuran.
Dengan demikian, ketika manusia melukai tubuhnya sendiri, secara sadar atau tidak, sejatinya ia sedang melatih dirinya untuk melukai bumi. Eksploitasi alam hanyalah perpanjangan dari keterasingan manusia terhadap tubuh dan jiwanya sendiri.
Namun hubungan ini tidak berhenti pada tubuh. Jika bumi memiliki tujuh lapisan, langit pun memiliki tujuh lapisan yang bersemayam dalam diri manusia: nafas, ruh, nyawa, jiwa, sukma, hati, dan akal.
Nafas adalah jembatan pertama antara yang tampak dan tak tampak. Ruh adalah percikan ilahi. Nyawa menggerakkan hidup. Jiwa merasakan. Sukma menyimpan kesadaran terdalam. Hati menimbang kebenaran. Akal memberi arah dan makna.
Langit yang dimaksud bukan di atas kepala manusia, melainkan di dalam dirinya. Karena itu, kerusakan batin manusia adalah keretakan langit itu sendiri.
Di sinilah hukum kosmis bekerja: apa pun pekerjaan, pikiran, dan perasaan kolektif manusia akan direspons oleh bumi. Bumi bukan benda mati; ia hidup, mendengar, dan bereaksi.
Ketika manusia bekerja dengan keserakahan, berpikir dengan kebencian, dan merasa dengan ketakutan, bumi menjawab dengan kegelisahan: banjir, longsor, kekeringan, dan bencana.
Sebaliknya, ketika manusia bekerja dengan kasih, berpikir dengan kejernihan, dan merasa dengan empati, alam menemukan kembali keseimbangannya.
Bencana sejatinya bukan murka bumi, melainkan pantulan wajah manusia sendiri. Maka memperbaiki alam tidak cukup dengan teknologi dan regulasi. Ia harus dimulai dari perbaikan batin.
Demikianlah, pandangan orang-orang tua Gayo tempo dulu bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan cerminnya. Dan alam semesta membaca manusia sebelum manusia sempat membaca dirinya sendiri.
(Mendale, Januari 14, 2026)






