Oleh: Mahbub Fauzie (Kontributor LintasGayo.co)
Tulisan Bang Fauzan Azima di media online Lintasgayo.co, edisi 14 Januari 2026 berjudul “Manusia Cermin Bumi” kembali menegaskan satu ciri khas yang selalu terasa dalam setiap karyanya: bahasa yang renyah, alur yang tenang namun menghujam, serta kedalaman makna yang mengajak pembaca bercermin ke dalam diri.
Terkait : Manusia Cermin Bumi
Tulisan ini tidak sekadar mengajak berpikir, tetapi mendorong pembaca untuk berdiam sejenak dan bertanya: sejauh mana kita telah memahami posisi manusia di hadapan bumi?
Gagasan bahwa manusia adalah cermin bumi terasa sangat relevan dengan realitas hari ini. Ketika bencana hidrometeorologi silih berganti melanda berbagai wilayah, termasuk Tanah Gayo dan Aceh-Sumatera secara umum, kita kerap sibuk mencari sebab teknis: curah hujan, kerusakan hutan, perubahan iklim.
Semua itu benar. Namun tulisan ini mengingatkan bahwa ada sebab yang lebih dalam, yakni kondisi batin dan cara hidup manusia itu sendiri.
Dalam Islam, gagasan tersebut sejatinya bukan hal baru. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, dari unsur yang sama dengan bumi yang dipijaknya.
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” (QS. Thaha: 55).
Artinya, hubungan manusia dan bumi bukan hubungan penguasa dengan objek, melainkan hubungan asal-usul dan keterikatan eksistensial.
Lebih jauh, Islam menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardhi—pemakmur dan penjaga bumi, bukan perusaknya.
Amanah kekhalifahan ini bukan lisensi untuk mengeksploitasi, melainkan mandat untuk merawat, menyeimbangkan, dan menjaga keberlangsungan kehidupan. Ketika manusia lupa pada amanah ini, maka yang muncul adalah kerusakan.
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini seakan menjadi bingkai teologis dari gagasan “bumi sebagai cermin manusia”. Bencana bukan semata hukuman, tetapi peringatan dan pantulan dari perilaku manusia sendiri.
Di titik inilah tulisan Bang Fauzan menemukan relevansinya yang kuat dengan nilai-nilai Islam. Kerusakan alam tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan keserakahan, ketamakan, ketidakadilan, dan keterasingan manusia dari nurani serta Tuhannya.
Ketika hati manusia rusak, relasi dengan sesama rusak, maka relasi dengan alam pun ikut runtuh.
Karena itu, solusi atas krisis lingkungan tidak cukup hanya dengan regulasi, teknologi, atau proyek-proyek fisik.
Semua itu penting, tetapi tidak akan bertahan lama jika tidak disertai perbaikan batin. Islam mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri manusia: dari hati yang bersih, akal yang jernih, dan sikap hidup yang penuh tanggung jawab.
Merawat bumi, dalam perspektif ini, adalah bagian dari ibadah. Menjaga hutan, air, tanah, dan seluruh ekosistem bukan hanya soal keberlanjutan ekologis, tetapi juga bentuk ketaatan pada amanah Allah.
Setiap tindakan kecil—menghemat air, tidak merusak alam, bersikap adil dalam mengelola sumber daya—adalah cermin dari kesadaran spiritual manusia.
Akhirnya, “Manusia Cermin Bumi” mengajak kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan menyalahkan keadaan, lalu mulai bertanya dengan jujur: wajah seperti apa yang sedang kita pantulkan kepada bumi hari ini?
Jika pantulannya adalah luka dan kegelisahan, maka sudah saatnya kita memperbaiki wajah itu—dengan iman, etika, dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.[]





