Oleh : Fauzan Azima*
Banjir bandang yang datang bertubi-tubi akhir-akhir ini bukan sekadar peristiwa alam. Ia seperti ketukan keras di pintu kesadaran kita.
Air bah kali ini menyasar tempat wisata yang kita banggakan, penginapan yang kita bangun dengan ambisi, sawah dan kebun kopi yang menjadi sumber penghidupan, bahkan kuburan, tempat kita seharusnya paling ingat pada kematian.
Yang membuat hati makin gelisah, bencana terjadi di wilayah-wilayah yang mayoritas dihuni urang Gayo: Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Ketambe di Aceh Tenggara, Lokop Serbejadi, Simpang Jernih, Pante Bidari di Aceh Timur, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Tenggulun di Aceh Tamiang, hingga Tanah Merah di Aceh Utara.
Seakan-akan ada benang merah yang mengikat semuanya. Maka wajar jika muncul pertanyaan yang getir sekaligus jujur: ada apa dengan urang Gayo?
Pertanyaan ini tidak seharusnya dijawab dengan kemarahan atau pembelaan diri, melainkan dengan perenungan. Dalam tradisi spiritual, musibah sering dipahami bukan semata hukuman, melainkan peringatan.
Bukan karena Tuhan membenci, tetapi justru karena Tuhan masih peduli. Air bah bisa jadi adalah ayat yang turun bukan dalam bentuk tulisan, melainkan peristiwa.
Urang Gayo dikenal religius, santun, dan beradat. Namun kita juga manusia yang tak luput dari lalai. Alam yang dulu dijaga dengan kearifan kini sering diperlakukan sebagai objek eksploitasi.
Hutan dipandang sebagai komoditas, bukan amanah. Sungai dijadikan halaman belakang, bukan sumber kehidupan. Tanah diwarisi bukan untuk dirawat, tetapi diperas hingga kering. Barangkali di situlah retaknya keseimbangan bermula.
Kuburan yang diterjang banjir memberi pesan paling sunyi namun paling keras: kematian tak pernah jauh, dan tak satu pun kekuasaan, harta, atau status mampu menahannya.
Sawah dan kebun yang rusak mengingatkan bahwa rezeki bukan sekadar hasil kerja, tetapi juga buah dari harmoni dengan alam. Tempat wisata yang hancur seolah menegur kesombongan manusia yang merasa mampu “menaklukkan” alam.
Maka hikmah terbesar dari air bah ini bukan sekadar ajakan membangun tanggul atau memperbaiki infrastruktur, tetapi membangun kembali kesadaran.
Kesadaran untuk kembali pada nilai: menjaga alam sebagai titipan Tuhan, menegakkan keadilan, menahan keserakahan, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Mungkin banjir ini tidak bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi berbisik pelan, “Sudahkah kita lupa?” Jika urang Gayo mau jujur bercermin, barangkali air bah ini adalah jalan pulang, meski lewat luka, menuju kesadaran yang lebih utuh dan iman yang lebih membumi.
(Mendale, Januari, 13, 2026)






