Catatan Redaksi*
Banjir bandang sungai Weh Rusip tak hanya menyapu bangunan. Ia menyapu kenangan, meruntuhkan lantai tempat kepala-kepala takwa pernah bersujud.
Pada 26-27 November 2025, air yang murka itu mengambil lebih dari sekadar kayu dan bata—ia mengambil satu-satunya mercusuar keimanan di Kampung Atu Singkih: Masjid Babul Ulum.
Kini, yang tersisa hanyalah puing. Dan diam.
Tapi di balik reruntuhan ini, tersimpan cerita tentang iman yang tak pernah layu.
Di tahun 2014, dari rumah-rumah sederhana ini, lahir teladan yang menggema. Kampung Atu Singkih dinobatkan sebagai pengumpul zakat terbaik.
Dari sanalah tumbuh sebidang kebun kopi, harta agama Atu Singkih —setiap bijinya adalah doa, setiap panennya adalah keberkahan sebesar 5-15 juta rupiah per tahun, semua untuk umat, semua untuk Allah.
Ketika air bah datang merobohkan rumah-Nya, semangat mereka tak ikut terseret. Di tengah tenda darurat, dengan suara parau dan mata yang berkaca, Tgk. Abu Bakar mangajak masyarakat di tengah jemaah yang hilang rumahnya: “Masjid Babul Ulum… akan kita bangun kembali.”
Tanah seluas ± 500 meter persegi telah mereka beli. Dengan apa? Dari hasil kebun wakaf yang mereka rawat dengan cucuran keringat. Dari sedekah ibu-ibu yang menyisihkan beras terakhirnya.
Mereka tidak mengeluh. Mereka bergerak. Karena masjid ini bukan sekadar bangunan—ia adalah tempat mereka mengadu.
Seperti Herman, yang rumah dan bengkelnya hilang ditelan air. Ia berdiri dengan baju seadanya, matanya sayu menatap langit.
“Di sini… hanya di mesjid ini kami bisa mencurahkan semua,” ujarnya tercekat, “saat semua pergi, hanya Allah tempat kami mengadu.”
Meski kehilangan segalanya, Herman masih menyisihkan rezekinya untuk sedekah. Karena iman tak boleh ikut tenggelam.
“Kami sudah lunasi 40 juta,” lirih Tgk. Abu Bakar usai shalat Jumat pertama di tanah harapan itu, “Masih ada 160 juta lagi yang harus ditunaikan…”
Setiap meter tanah ini, seharga 360 ribu rupiah, adalah sepotong sajadah baru untuk anak cucu kita kelak. Setiap wakaf yang kau berikan, adalah aliran pahala yang tak akan pernah kering—sampai akhir zaman.
Mari tegakkan kembali tiang-tiang ketakwaan. Mari wakafkan sejengkal tanah untuk rumah Allah.
Mereka sudah memulai dengan apa yang ada. Kini, giliran kita melanjutkan dengan apa yang kita punya.
Bersama bangun kembali Masjid Babul Ulum. Untuk informasi wakaf, silakan hubungi pengurus masjid. Setiap rupiah, adalah doa yang mengalir abadi.
Atu Singkih, 9 Januari 2026, Jum’at perdana di Mesjid Babul Ulum sementara





