REDELONG-LintasGAYO.co : Musibah banjir bandang menerjang dua pesantren di Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Rabu malam, 26 November 2025. Peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan parah, kerugian materil besar, serta merenggut satu nyawa dewan guru.
Informasi ini disampaikan oleh Tengku Zainal Abidin alias Pang Rafles, yang memantau langsung dampak bencana di lokasi.
Pesantren pertama yang terdampak adalah Pesantren Nurul Islam Al Aziziyah, pimpinan Tgk Syarifuddin, yang beralamat di Dusun Bakongan, Desa Inpres, Kecamatan Permata. Saat banjir bandang terjadi, pesantren ini menampung 195 santri laki-laki dan perempuan, dengan 15 orang dewan guru.
“Seluruh peralatan pesantren hanyut terbawa banjir. Para santri dan guru hanya menyisakan pakaian di badan,” ujar Pang Rafles. Banjir bandang yang datang tiba-tiba pada malam hari tersebut merusak fasilitas belajar, asrama, kitab-kitab, serta perlengkapan santri.
Pesantren kedua yang terdampak adalah Pesantren Terpadu Bustanul ‘Ulum, pimpinan Tgk Baharuddin Usman, yang berlokasi di Dusun Sejahtera, Desa Gelampang Wih Tenang Uken, Kecamatan Permata. Di pesantren ini, kerusakan terjadi pada rumah dewan guru serta perlengkapan pribadi dan pendidikan.
Satu rumah dewan guru milik Tgk Alfan mengalami kerusakan, meski sebagian barang masih sempat diselamatkan. Sementara itu, barang-barang milik Tgk Ali dilaporkan hancur dan hanyut seluruhnya. Ia diketahui menggunakan fasilitas dayah sebagai tempat tinggal; rumah yang ditempatinya masih berdiri, namun seluruh isi rumah terbawa arus.
Tragedi paling memilukan menimpa Tgk Sandika, salah seorang dewan guru di pesantren tersebut. Pang Rafles menjelaskan bahwa Tgk Sandika sempat menyelamatkan para santri dengan mengamankan mereka di kamar mandi. Para santri selamat, namun Tgk Sandika terseret banjir bandang sekitar pukul 03.00 WIB.
“Jenazah beliau ditemukan dua hari kemudian dan dimakamkan di Desa Rambung Jaya. Diperkirakan terseret sejauh kurang lebih tujuh kilometer,” ungkap Pang Rafles.
Selain kerusakan bangunan, banjir bandang juga menghanyutkan banyak buku pelajaran, kitab, pakaian santri laki-laki, serta peralatan sekolah lainnya. Sekitar 60 santri laki-laki terdampak langsung akibat kehilangan perlengkapan pribadi dan sarana belajar.
Pang Rafles berharap adanya perhatian serius dari pemerintah dan para dermawan untuk membantu pemulihan kedua pesantren tersebut, terutama kebutuhan dasar santri dan kelangsungan kegiatan pendidikan pascabencana.
[FA]





