Wan Bele Ngenal Lebe: Ketika Bencana Dijadikan Ladang Untung

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Dalam bahasa Gayo, Wan Bele Ngenal Lebe adalah ungkapan yang sederhana namun mematikan maknanya: di tengah bencana, ada yang sibuk menghitung laba.

Dalam kesempitan rakyat, ada pemimpin yang justru melihat peluang. Orang Padang menyebutnya, “injak-injak selalu di atas.” Dan di negeri kami hari ini, pepatah itu terasa menjelma menjadi watak kepemimpinan.

Bencana seharusnya menjadi titik di mana nurani diuji. Saat air meluap, jalan putus, rumah hanyut, dan dapur rakyat padam, yang diharapkan hadir adalah empati dan keberpihakan.

Namun yang kita saksikan justru sebaliknya: semuanya dibisniskan, semuanya dipoles menjadi panggung pencitraan.

Lihatlah bagaimana kelangkaan beras, BBM dan gas disikapi. Ketika ribuan tabung gas akhirnya didatangkan, walaupun dengan skema distribusi darurat atau subsidi, tapi masyarakat yang sudah tercekik tetap membeli.

Ironisnya, masih ada waktu dan tenaga pimpinan daerah untuk berpidato, seolah rakyat harus berterima kasih karena boleh membeli kembali hak hidupnya sendiri.

Jika gas itu gratis dan dibagikan langsung kepada warga terdampak, mungkin pidato masih layak. Tapi ketika penderitaan dijadikan narasi keberhasilan, di situlah nurani benar-benar runtuh.

Lebih menyakitkan lagi, dalam bencana hidrometeorologi Aceh 2025, kehadiran pemimpin di lapangan sering kali berjalan beriringan dengan SPPD. Selama anggaran perjalanan dinas tersedia, sepatu lapangan terasa ringan. Begitu SPPD berkurang, langkah pun melambat, bahkan menghilang.

Sementara rakyat masih bergelut dengan lumpur, trauma, dan ketidakpastian, sedangkan pemimpinnya kembali nyaman di balik meja untuk menghitung kemungkinan segala sesuatu untuk diolah.

Bencana bukan ajang wisata kebijakan. Ia bukan ruang transaksi, apalagi kesempatan mengumpulkan poin politik. Ketika pemimpin hanya turun saat ada keuntungan finansial atau sorotan kamera, maka yang sebenarnya runtuh bukan hanya jembatan dan rumah warga, tetapi juga kepercayaan publik.

Wan Bele Ngenal Lebe bukan sekadar istilah budaya. Ia kini menjadi cermin yang jujur tentang bagaimana sebagian pemimpin kehilangan rasa malu. Dan ketika rasa malu hilang, bencana apa pun tak lagi cukup untuk membangunkan hati yang telah lama mati.

(Mendale, Desember 3, 2025)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.