Budaya Antre: Cermin Kedewasaan dan Jalan Menuju Kehidupan yang Lebih Tertib

oleh

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Deretan kendaraan memanjang di depan SPBU Jagong Jeget pada suatu pagi berkabut. Di antara suara mesin yang menyala pelan dan percakapan ringan para pengemudi, tampak satu nilai penting yang sedang dipraktikkan: budaya antre.

Sekilas tampak sederhana, hanya barisan mobil menunggu giliran mengisi bahan bakar. Namun jika dicermati, momen ini sesungguhnya menggambarkan karakter dan kedewasaan sebuah masyarakat.

Antre bukan sekadar berdiri atau menunggu giliran. Antre mengajarkan bahwa hidup adalah kerja sama, bukan perlombaan saling mendahului.

Dalam antrean, tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang dikecualikan—siapa yang datang terlebih dahulu, dialah yang dilayani. Di sana terdapat nilai kesetaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Antre dalam Keluarga: Mendidik Sabar Sejak Dini

Budaya antre sejatinya terbentuk pertama sekali dalam lingkup terkecil: rumah tangga. Ketika anak menunggu gilirannya memakai kamar mandi sebelum sekolah, ketika suami atau istri menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan, atau saat seluruh anggota keluarga saling memberi kesempatan di meja makan—itulah latihan antre dalam bentuk yang lebih halus.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang membiasakan antre akan belajar tiga hal penting: sabar, disiplin, dan empati. Ia akan paham bahwa setiap orang punya kebutuhan yang patut dihormati. Pendidikan karakter semacam ini sangat menentukan sikap anak ketika kelak berinteraksi dengan masyarakat.

Antre dalam Masyarakat: Indikator Peradaban

Jika kita melihat masyarakat yang tertib antre, sesungguhnya kita sedang melihat peradaban yang sedang tumbuh. Negara-negara maju memiliki budaya antre yang kuat bukan karena penduduknya lebih pandai, tetapi karena mereka konsisten menjunjung aturan sederhana ini.

Di SPBU, di pasar, di kantor pelayanan, atau di lalu lintas—antre menciptakan harmoni, mengurangi gesekan, dan meminimalkan konflik. Sebaliknya, masyarakat yang tidak mampu berbudaya antre sering bergumul dengan masalah ketertiban: kemacetan, perselisihan, bahkan kekerasan kecil yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Antre dalam Pelayanan Publik: Wujud Integritas

Dalam lembaga pelayanan publik, termasuk di kantor atau di manapun, budaya antre adalah bagian dari integritas. Masyarakat mau antre dengan tertib, sementara petugas melayani tanpa pilih kasih. Ketika dua hal ini berjalan beriringan, kepercayaan publik tumbuh.

Petugas yang melayani berdasarkan urutan, bukan kedekatan. Masyarakat yang datang sesuai giliran, bukan memaksa untuk didahulukan. Dua sikap ini menciptakan ekosistem pelayanan yang berkeadilan dan beradab.

Dimensi Spiritual dari Antre

Selain nilai sosial, antre juga memiliki nilai spiritual. Islam mengajarkan umatnya untuk lurus dan rapi dalam saf shalat. Rasulullah SAW pun memberi teladan tentang kedisiplinan kolektif. Semua orang berdiri sejajar, tanpa melihat pangkat dan harta.

Antre melatih kita menahan ego—menahan diri agar tidak mengambil hak orang lain, menahan amarah, menahan keinginan untuk didahulukan. Ini adalah latihan spiritual yang membentuk pribadi yang lebih sabar dan tawadhu’.

Antre sebagai Cermin Diri

Momen antre di SPBU Jagong Jeget adalah pengingat bahwa hal-hal kecil seperti ini membentuk wajah peradaban kita. Jika setiap orang bersedia tertib antre, maka sesungguhnya ia telah menata hatinya. Dari hati yang tertata, lahirlah masyarakat yang tertib.

Antre tidak menjadikan kita lambat; justru antre menjadikan kita lebih teratur. Antre tidak membuat kita kalah; justru menjadikan kita lebih beradab.

Semoga budaya antre semakin tumbuh dalam keseharian kita—di rumah, di jalan raya, di kantor pelayanan, dan di mana pun kita berada. Dengan begitu, kita sedang berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih harmonis, adil, dan berkarakter.[]

Jumat, 14 November 2025

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.