TAKENGON-LintasGAYO.co : Letnan Kolonel Infanteri (Letkol Inf) Muhammad Fachri Prawira adalah seorang perwira menengah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang saat ini mengemban amanah sebagai Komandan Batalyon (Danyon) TP (Teritorial Pembangunan) 854, Pameu, Kecamatan Rusip Antara Kabupaten Aceh Tengah.
Sebagai seorang prajurit yang mengedepankan profesionalisme dan pengabdian, Letkol Fachri dikenal memiliki dedikasi tinggi terhadap tugas dan rakyat di wilayah penugasannya.
Muhammad Fachri Prawira merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2009, sebuah tonggak awal dari perjalanan panjangnya dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.
Lahir dari keluarga bersuku Betawi, semangatnya mencerminkan karakter khas masyarakat Betawi yang tegas, terbuka, dan berjiwa sosial tinggi.
Dalam perjalanan dinasnya, Letkol Fachri telah menempati berbagai jabatan strategis, antara lain sebagai Pama di Yonif 516/Caraka Yudha, Surabaya. Pamen di satuan Wadan 122 Sterad Mabesad (Staf Teritorial Markas Besar Angkatan Darat).
Setiap penugasan menjadi wadah pembelajaran dan pengabdian yang memperkaya pengalaman militernya, sekaligus menempa kepemimpinan dan karakter seorang komandan yang humanis.
Letkol Fachri memiliki pengalaman lapangan yang luas, baik dalam operasi dalam negeri maupun misi internasional.
Beberapa di antaranya Satgas Pamtas (Pengamanan Perbatasan). Satgas Pamrahwan (Pengamanan Daerah Rawan). Satgas Standby Force PBB dan Satgas PBB di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO). Lain itu mendapat penugasan di Maluku dan Papua.
Setiap misi yang dijalaninya mencerminkan profesionalisme tinggi dan komitmen kuat terhadap perdamaian serta keamanan nasional maupun global.
Aceh di Hati: Pengalaman yang Membekas
Salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan karier Letkol Fachri adalah penugasannya di Aceh Tengah. Ia mulai bertugas sebagai Danyon TP 854 Dharma Raksaka di Pameu sejak Juli 2025.
Penempatan ini bukan hanya sekadar misi militer, tetapi juga pengalaman batin yang meninggalkan kesan mendalam baginya.
Pameu merupakan kemukiman di Kecamatan Rusip Antara, butuh waktu 2 sampai 3 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor, dengan jarak 75 km dari ibu kota Takengon. Daerah pengunungan yang asri.
“Sejak di Aceh Tengah, saya merasa sudah seperti orang Aceh seutuhnya. Saya sudah mandi dan minum air Danau Lut Tawar. Rasanya sudah menjadi bagian dari tanah ini,” ujar Letkol Fachri dengan penuh ketulusan.
Baginya, Aceh bukan sekadar tempat bertugas, melainkan rumah kedua yang menghadirkan kesejukan udara, keramahan masyarakat, dan kekayaan budaya yang melekat di hati.
Di balik sosok prajurit tangguh, Letkol Fachri juga merupakan seorang kepala keluarga yang hangat.
Ia dikaruniai dua orang anak, yang menjadi sumber semangat dan inspirasi dalam menjalankan setiap amanah negara.
Ketika menerima Surat Perintah Penugasan sebagai Danyon TP 854 Pameu, Letkol Fachri mengaku sempat terkejut.
Namun, sebagai prajurit Sapta Marga, ia memegang teguh prinsip bahwa setiap penugasan adalah kehormatan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Kepemimpinan dan Pengabdian
Sebagai Komandan Batalyon TP 854, Letkol Fachri berkomitmen untuk menjaga stabilitas keamanan serta menjalin kedekatan dengan masyarakat di wilayah penugasannya.
Dengan semangat Akmil 2009, ia terus mengimplementasikan nilai-nilai disiplin, loyalitas, dan kepemimpinan dalam setiap langkah.
Batalyon Infanteri Teritorial Pembanguan 854 Dharma Karsaka baru diresmikan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Salah satu tugasnya mendukung pembangunan nasional serta ketahanan nasional di wilayah tersebut.
Penugasan di Pameu yang jauh dari ibu kota tidak membuatnya surut semangat. Justru di sanalah ia melihat ladang pengabdian yang sesungguhnya — tempat di mana nilai-nilai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dijalankan secara nyata.
Beberapa bulan ditangan Letkol Fahri, sudah banyak pembangunan di batalyon dengan pembukaan lahan pertanian, menanam komoditas palawija, perikanan dan peternakan.
Perjalanan Letkol Inf Muhammad Fachri Prawira merupakan cerminan prajurit sejati: disiplin, rendah hati, dan penuh dedikasi.
Dari tanah Betawi hingga Aceh, dari Papua hingga Kongo, semangat pengabdian terus menyala dalam dirinya.
“Dimanapun ditempatkan, prajurit harus siap. Karena tugas adalah kehormatan, dan pengabdian adalah napas kami,” demikian Letkol Inf Muhammad Fachri Prawira S.Sos.
[Aman Gema]





