Takengon Masih Jadi Referensi Geliat Seni dan Budaya di Aceh

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : Sejumlah seniman Aceh bersertipikasi yang tergabung dalam Komunitas Seniman Bersertipikasi (KSbS) mengadakan reuni dan diskusi di Taman Inen Mayak Teri (Taman Seni Gayo) Takengon Sabtu, 4 Maret 2023.

Diskusi mengangkat tema seputar eksistensi dan geliat kesenian di Kota Takengon terutama dalam bidang seni tari, teater, sastra dan lain-lain.

Salah seorang Seniman Bersertipikasi Ayi Jufridar, sastrawan, jurnalis juga dosen di Universitas Malikussalaeh Lhoukseumawe ini mengatakan, Takengon hingga hari ini masih menjadi referensi kesenian dan budaya di Aceh.

“Kita harus mengakui bahwa Takengon hingga hari ini masih menjadi refrensi kesenian dan budaya di Provinsi Aceh,” katanya.

Kota dingin ini, katanya lagi, banyak pelaku seni dengan agenda kesenian yang terus menggeliat dan berproses yang justru digerakkan oleh para seniman dan komunitas-komunitas yang ada.

“Sementara di kabupaten lain kita belum melihat geliat itu, bahkan cenderung sepi dan menunggu proyek dinas termasuk di ibukota provinsi,” jelas Ayi Jufridar yang sering bertandang ke Takengon.

Diskusi seni yang dihadiri oleh sejumlah seniman bersertipikasi untuk pertama kali ini dihari oleh Purnama K Ruslam, Salman Yoga S, Sabariah Munthe, Aga Renggali, Ana Kobat dari Takengon, Raisya Agustina Ayi Jufridar dari kota Lhoukseumawe dan sejumlah seniman lainnya.

Tema lain yang sempat mencuat dalam diskusi yang berlangsung mulai jam 16.20 hingga jam 18.10 itu adalah perihal plagiatisme karya tari.

Diakui oleh sebahagian seniman yang hadir sejumlah plagiat karya tari oleh oknum yang tidak bertanggungjawab pernah terjadi. Salah satunya diakui oleh Sabariah Munthe yang salah satu koreografi tarinya pernah diplagiat dan dipentaskan dihadapan public tanpa meminta izin.

Demikian juga kasus plagiat tari Sining beberapa tahun yang lalu yang sempat menyeret dinat terkait di Banda Aceh.

“Sebagai pelaku seni kita prihatin dengan fakta ini, padahal dengan meminta izin saja bagi kita sudah cukup sebab hal tersebut akan mencerminkan jiwa besar kita sebagai insan seni”, kata Sabariah.

Berbeda dengan Aga Renggali, seorang koreo dan seniman muda yang pernah mendapat penghargaan kebudayaan dari Lembaga Wali Nanggroe Aceh. Aga mengaku dalam proses berkarya semua seniman mempunyai karakter dan ciri tersendiri.

“Setiap seniman dalam proses mencipta dan berkarya mempunyai karakter dan ciri tersendiri, jadi ketika sebuah karya muncul dipanggung-panggung atau pentas dimanapun sekilas kita akan dapat menilai ini original atau hasil adaptasi,” jelas Aga yang pernah menggarap koreografi tari yang terinspirasi dari buku karya Salman Yoga S berjudul PEREMPUAN BERJANGKAT UTEM dan meraih jura dua dalam even Sabang Fair pada tahun 2015 silam.

Dipenghujung diskusi semua seniman yang hadir bersepakat akan tetap melangsungkan acara diskusi yang sama dengan tempat dan waktu berbeda secara berkala. [AR]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.