Oleh : Halimatus Sakdhiah, S.Pd*
Prestasi merupakan suatu kata yang berasal dari Bahasa Belanda, yaitu prestatie yang berarti hasil dari usaha. Dikalangan masyarakat khususnya para orang tua prestasi sering kali disalah artikan. Selama ini prestasi hanya identik dengan keunggulan dibidang-bidang tertentu saja seperti juara kelas misalnya, menjadi pemenang dari sebuah olimpiade dibidang tertentu.
Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan arti dari kata prestasi itu sendiri. Hal yang terburuk adalah pendapat seorang guru yang juga tidak jauh berbeda dengan pendapat para orang tua. Padahal bukankah sudah menjadi tugas guru untuk menggali potensi yang dimiliki siswa dalam segala bidang?
Saya adalah seorang guru yang mengajar sejak tahun 2009 lalu. Sebagai seorang guru saya juga memiliki tugas tambahan yang telah berkali-kali dipercaya menjadi seorang wali kelas. Menjadi seorang wali kelas untuk kesekian kalinya membuat saya harus banyak dan terus belajar mengenai berbagai karakter siswa.
Hal-hal terkait dengan stereotype prestasi ini sudah lama menjadi kegelisahan tersendiri di hati saya. Bagaimana tidak, dalam suatu kelas yang terdiri dari 19 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan. Mereka (siswa laki-laki) sering meninggalkan kelas saat proses pembelajaran (bolos).
Perilaku membolos pada kalangan pelajar sudah sangat popular dikalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Ada banyak faktor atau penyebab siswa bolos sekolah, salah satunya dalah karena mereka tidak ingin mengikuti mata pelajaran yang tidak mereka sukai, atau bahkan karena mereka tidak suka pada guru yang mengajar bidang studi tertentu bahkan Sebagian bolos karena adanya ajakan teman untuk bermain futsal di lapangan.
Pada kesempatan kali ini yang menarik untuk saya kupas adalah tentang penyebab bolos karena bermain futsal di lapangan.
Berdasarkan pengamatan saya, setiap pergantian jam pelajaran setidaknya ada beberapa siswa yang selalu tidak mengikuti jam pelajaran.
Mereka terkesan bergantian dalam mengambil jadwal untuk bolos pada jam pelajaran tertentu. Segala upaya dan alasan sering mereka racik demi tercapainya tujuan “menuju lapangan tecinta”.
Kebanyakan dari Siswa yang seringnya bolos demi bermain futsal di lapangan adalah siswa yang cenderung memiliki nilai rendah di bidang sains. Namun apakah mereka dapat dikatakan tidak berprestasi.
Faktanya, saat ajang perlombaan antar kelas digelar, dimana salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan adalah futsal, saya katakan pada mereka jika kamu tidak unggul dalam bidang akademik, silakan buktikan kepada saya bahwa kamu bisa unggul dibidang olah raga.
Dan hasilnya, mereka membuktikan bahwa mereka dapat meraih juara 1 dalam ajang tersebut. Sebuah kalimat yang mereka ucapkan, jika pemenang olimpiade bertarung dengan fikiran mereka, maka atlit bertarung dengan fisik mereka. Ketika bertanding dilapangan, salah satu ancamannya adalah patah tulang.
Jika kita kaji tentang arti kata prestasi yaitu hasil dari suatu usaha, maka sudah sepatutnya siswa yang suka bolos karena lapangan tadi juga dapat dikatakan berprestasi. Hanya saja mungkin kedisiplinan mereka yang harus kita bimbing.
Bukankah tugas pokok seorang guru mencakup 5 M yaitu merencanakan pembelajaran atau pembimbingan, melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan, menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan, membimbing dan melatih siswa serta melaksanakan tugas tambahan lainnya.
Dengan melaksanakan tugas pokok guru sesuai permendikbud nomor 15 tahun 2018 maka diharapkan siswa yang unggul dibidang oleh raga juga dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan disiplin seperti siswa yang berprestasi dibidang akademik.
Prestasi adalah hasil dari sebuah usaha. Usaha yang dilakukan secara maksimal dengan bidang kemampuan yang berbeda. Bagaimana kita berusaha untuk meciptakan sebuah prestasi tentunya dengan sikap disiplin.
*Penulis adalah Guru SMA Negeri 2 Timang Gajah, yang merupakan peserta pelatihan Jurnalistik LintasGAYO.co bekerjasama dengan Cabdin Disdik Bener Meriah





