Pembentukan Moral Melalui Ramadhan

oleh
Drs Jamhuri (foto:tarina)

Oleh : Drs. Jamhuri Ungel, MA*

Dari sisi hukum melalui pemahaman ulama bahwa puasa pada bulan ramadhan hukumnya adalah wajib, artinya semua orang yang muslim lagi beriman tanpa kecuali dan tanpa kata-kata tidak mesti melaksanakan ibadah puasa.

Tidak boleh melakukan puasa yang lain di bulan ramadhan kecuali puasa ramadhan, sehingga wajibnya puasa menjadi wajib mudhayyaq dengan ketentuan antara waktu yang disiapkan dengan waktu yang dibutuhkan pas tidak lebih dan tidak kurang, Allah menetapkan puasa dengan hitungan satu bulan bukan dengan hitungan jumlah hari.

Bulan puasa yang merupakan bulan istimewa berbeda dengan bulan-bulan yang lainnya, dimana semua amal baik yang dilakukan nilainya dilipat gandakan dengan jumlah yang tidak disebut tetapi Allah memberi bandingan kebaikan juga dengan lamanya waktu melakukan perbuatan baik yakni melebihi seribu bulan.

Untuk itu juga Rasulullah mendorong ummatnya supaya meningkatkan amal-baiknya selama bulan ramadhan.

Dorongan Prilaku ummat Islam dalam mengejar nilai lebih yang diberikan Allah merupakan wujud pembentukan moral atau sikap mental dalam berperilaku kepada Allah, Nabi, diri sendiri dan juga kepada semua orang.

Sikap atau prilaku terhadap Allah dalam bulan ramadhan betul-betul memperbanyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib siang dan malam hari, pada waktu malam semua orang melakukan shalat tarawih ditambah dengan shalat rawatib qabliah dan ba’diah dengan tea tap tidak meninggalkan ibadah shalat wajib.

Pada siang hari semua orang berpuasa mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari dengan tetap mencari kebutuhan hidup secara ekonomi. Semua ini dijadikan sebagai sarana untuk beribadah, sehingga seolah tidak ada waktu berpikir lain selain dari pada ibadah.

Bulan ramadhan juga mengajarkan kaum muslimin bagaimana bersikap atau berperilaku kepada Nabi, dengan upaya sepenuh hati mengikuti apa yang menjadi sunnahnya sampai kepada sunnah berbuka dengan memakan kurma, walaupun kurma itu bukan tanaman domistik untuk kita.

Namun ada juga sebagian dari kita berupaya memahami makna memakan kurma sebagaia makanan yang sehat untuk berbuka sama halnya dengan memakan makanan yang manis ketika berbuka. Banyak sekali hadis nabi tentang puasa yang selalu diupayakan untuk diikuti oleh kaum muslim dalam rangka menambah amal bulan ramadhan.

Ramadhan juga melatih diri seseorang untuk berprilaku baik pada diri sendiri, berupaya berhati-hati untuk selalu berkata yang baik kepada semua orang, berupaya untuk bersabar kendati harus marah, mengatakan saya sedang berpuasa ketika ada orang yang mengajak untuk ribut.

Sampai kepada melatih diri untuk tidak memaksakan diri untuk bekerja dengan ungkapan hadis “an-naumu shaim ibadah” artinya istirahat tidak mengerjakan apa-apa juga dianggap sebagai ibadah. Kemudian dalam ramadhan semua orang berupaya meningkatkan kedisiplinan diri yang dicerminkan dalam bagian yang disunatkan dalam puasa adalah “menyegerakan untuk berbuka dan melambatkan makan sahur”.

Ini adalah cerminan pelatihan kedisiplinan diri untuk tidak membiasakan diri lalai menghabiskan waktu untuk beribadah sehingga lupa untuk memenuhi kebutuhan fisik seperti makan, dan ada juga sebagian lupa dengan kebutuhan dunia sehingga lupa dengan ibadah.

Di samping mengajarkan berprilaku baik terhadap diri sendiri ramadhan melatih seseorang untuk berprilaku baik kepada kepada orang lain, Nabi mengatakan kalau kamu memberi makanan kepada orang yang sedang berpuasa maka pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tersebut, ini sebagai cerminan prilaku memberi apa yang sedang dibutuhkan oleh orang yang sedang beribadah atau juga memberi sesuatu sesuai dengan kebutuhan.

Orang yang sedang berpuasa merasa lapar dan haus karena seharian tidak makan dan tidak minum, karena ia merasakan hal tersebut maka mereka sangat merasakan kalau pemberian seseorang kepadanya sangat dibutuhkan.

Dalam bulan puasa juga sangat dilarang untuk mencari dan membicarakan keburukan orang, karena ayat al-Qur’an mengatakan sangat boleh jadi ketika membicarakan keburukan orang padahal keburukan yang kita miliki lebih banyak, karen itu Islam berprinsip terlalu lelah mencari dan membicarakan kelemahan dan keburukan orang.

Itulah sebagian kecil dari upaya-upaya pembentukan moral pada bulan ramadhan, yang mempunyai cakupan luas sehingga diharapkan sampailah kepada “tidak Saya ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah dalam hubungan partikel dengan Sang Khaliq dan khairun nas anfauhum lin nas dalam hubungan horizon antar sesama manusia.” []

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.