Refleksi Tahun Baru 2021, Tahun Penuh Harapan

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Tahun 2019, pasca pemilu yang sangat sengit, yang membuat pertemanan bahkan persaudaraan sesama anak bangsa hancur, datangnya 2020, disambut dengan sejuta harapan.

Awal tahun, semua menyangka bahwa ini adalah tahun yang biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya yang berjalan normal bagi kita, tiga generasi terakhir manusia penghuni bumi, generasi paling beruntung dalam sejarah karena tak pernah mengalami perang dalam skala global, tak mengalami kelaparan massif yang menewaskan puluhan bahkan ratusan juta orang dan tak pernah mengalami kematian massal akibat pandemi.

Berawal dari informasi ditemukannya pneumonia aneh di Tiongkok, berita yang disambut dengan lucu-lucuan oleh netizen negeri +62, mengaitkannya dengan ancaman paranormal Indonesia untuk menyantet orang-orang Tiongkok karena mereka mencoba-coba mengusik kedaulatan negara kita.

Informasi lucu-lucuan ini berkembang serius ketika kemudian ditemukan bukti bahwa pneumonia aneh tersebut adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varian baru dari kelompok virus corona yang sudah ditemukan sejak tahun 60-an, lalu selanjutnya Tiongkok melakukan lock down terhadap Wuhan yang merupakan kota pertama ditemukannya virus ini.

Selanjutnya, kepanikan menyebar ke seluruh negara-negara di dunia yang sama-sama gagap tak tahu bagaimana seharusnya bereaksi, karena memang sebelumnya belum pernah ada preseden seperti ini dan akhirnya, kita sudah ketahui dan rasakan bersama-sama.

Sejak berakhirnya perang dunia kedua, belum ada tahun yang seberat 2020 ini. Tahun yang dampak beratnya tidak hanya dirasakan oleh manusia yang hidup di satu wilayah tertentu saja, melainkan menderita bersama-sama dalam skala global.

Anak-anak kita tanpa persiapan yang matang, tiba-tiba dipaksa oleh keadaan untuk bersekolah dari rumah, tak bertemu teman-temannya. Masker menjadi outfit wajib bagi yang mau keluar rumah, perekonomian yang kita pikir akan stabil tiba-tiba terjun bebas.

Tata nilai yang selama ini kita anut tiba-tiba terjungkir balik, jargon “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” secara ajaib menjadi basi karena faktanya menjadi benar-benar terbalik. Dalam pandemi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya ini, justru “bercerai” dalam pengertian menjaga jarak justru membuat kita teguh, “bersatu” dalam pengertian berkerumun justru akan membuat kita runtuh.

Inilah tahun di mana, bersatu berkerumun menjadi sebuah perbuatan kriminal. Di Canada, orang bahkan tak berani sembarangan memposting profil medsos selama tahun baru, karena kalau di profil itu terlihat adanya indikasi pelanggaran protokol kesehatan, pemerintah setempat akan melacak dan menjerat si pemilik akun medsos tersebut dengan ancaman pidana.

Berbeda dengan tsunami 2004, ketika Aceh begitu menderita. Orang-orang di daerah lain di Indonesia, bersama-sama dengan segala bangsa di dunia terpanggil ikut membantu dengan apapun yang bisa dibantu, karena pada saat itu, hanya Aceh yang benar-benar menderita, sementara yang lain nasibnya lebih beruntung.

Tapi di 2020 ini, tidak demikian adanya. Kita menderita, orang di segala penjuru dunia juga sama bahkan ada yang lebih daripada kita menderitanya.

Prancis yang merupakan negara kesejahteraan alias “welfare state” saja begitu menderita sampai-sampai warganya membuat logo berbentuk jari tengah untuk tahun 2020.

Karena itulah, saya belum pernah merasa sedemikian ajaib di hari pertama melihat matahari di tahun yang baru seperti yang saya alami kemarin.

Entah bagaimana caranya, setelah melewati tahun seberat 2020 ini Allah bisa membuat saya, keluarga dan orang-orang terdekat saya masih bernafas di awal tahun 2021 ini.

Selamat datang 2021, tahun yang menyimpan sejuta harapan semoga kali ini harapan kami tidak berujung kekecewaan kembali. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.