Pasien, Duta Hidup Sehat untuk Penuhi Protokol Kesehatan

oleh

Features : Zuhra Ruhmi*

Air di rumah Amirsyam tersendat, 3 hari menjelang acara lamaran anaknya. Ia berusaha untuk memperbaiki karena akan ramai keluarga dari Takengon yang akan tiba ke rumahnya di Pagar Air Aceh Besar.

Ia berusaha memperbaiki saluran air, namun tubuhnya lemas, beristirahatpun bukan solusi, tubuhnya kian lemas. Istri dan anaknya menganjurkan periksa ke rumah sakit, namun Ia tolak. Menurutnya lelah yang ia rasa karena urusan tugasnya memimpin STIHMAT Aceh Tengah juga persiapan jelang lamaran anak keduanya.

Malam tiba, bujukan membuahkan hasil, iapun kemudian dibawa ke rumah sakit Meuraxa Aceh Besar, setelah diperiksa, petugas rumah sakit merujuk ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA).

Setelah dilakukan pemeriksaan, Ketua STIHMAT Aceh Tengah ini dinyatakan positif Corona.

Tiga mobil rombongan yang akan membersamai Amirsyam menerima pinanganpun segera dikabarkan oleh anak sulungnya Gunedi.

Semua rombongan terpaksa harus menginap ke rumah kerabat lainnya demi kebaikan bersama.

Amirsyam telentang di bangsal rumah sakit, ia telah dibawa menuju ruang Pinere, surat menyurat harus segera di tanda tangani.

Tubuhnya lemah, tapi ia tetap sadar sedari tadi. Terdengar jelas penjelasan perawat tentang syarat utama memasuki ruangan.

“Bu, ini adalah pertemuan terakhir ibu dengan bapak jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Silahkan tanda tangani surat pernyataan ini.”

Perkataan perawat membuat debar di hati Amirsyam. Perawat dengan APD lengkap mendorongnya menuju ruangan, di depan ruangan banyak peti jenazah yang tersusun. Debar hatinya bertambah.

Ia sempat menyesalkan kenapa harus bahasa verbal itu yang dikatakan oleh perawat juga pemandangan peti jenazah yang jelas terlihat, namun ia kuatkan tekad dan berdo’a bahwa waktunya untuk beribadah masih kurang.

Rasa-rasanya ingin ia usulkan kalau pertama memasuki ruangan Pinere harusnya perawat memberi semangat untuk kesembuhan pasien, meski harus menandatangani surat menyurat, tanpa harus mengeluarkan bahasa verbal yang membuat debar hati semakin berkelebat.

Alat terpasang di tubuhnya, ia sendiri di ruangan. Perawat memantaunya hanya melalui CCTV yang terpasang di tiap ruangan.

Keluarga berinisiatif memberinya hp untuk tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga, perawat memberi izin.

Pergi terburu-buru dari rumah membuat sang istri tak begitu memperhatikan pakaian yang dikenakan Amirsyam, baju sekenanya cukup. Ternyata ada bagian robek di pinggir kerah bajunya yang juga membuat “robek” cara perawatan di ruangan.

Kebosanan menghampiri Amirsyam, menitipkan beberapa judul buku tentu akan menjadi solusi. Pesanan terkirim.

Tak lama buku tiba, kebosanannya bisa lebih produktif dengan kehadiran buku. Judul buku berganti setiap kali titipan dari rumah datang. Hingga seorang perawat bertanya apakah Amirsyam adalah seorang pejabat?

Akhirnya Amirsyam punya teman cerita, kemudian Amisyam menceritakan kesibukan hariannya menjabat sebagai Ketua STIHMAT Takengon, juga mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Panjang lebar Ia bercerita, maka layanan berganti menjadi lebih elegan. Perawat semakin rajin bertanya tentang keadaannya.

Namun begitu, Amisyam juga sering mengiba melihat perawat mengenakan APD lengkap, pasalnya Amirsyam sering merasakan kesakitan karena colokan jarum suntik yang patah karena tak tepat sasaran. Bagaimana tidak, kacamata para perawat berembun, matanya kabur, pakaian hanya bisa sekali pakai, panas, pipis pakai pampers, penyiksaan yang tak terlihat semua mata bukan?

Hari-hari berlalu, kesehatan Amisyam membaik, Ia dipindahkan ke ruangan yang diisi oleh 2 orang, tanpa alat. Menunggu hasil SWAB yang sudah entah keberapa. Ia bincang-bincang dengan teman sekamarnya. “Panggilan alam” tiba, ia segera menuju ke toilet menyelesaikannya sesaat.

Pintu toilet ia buka, hakat selesai,  temannya bercerita telah terbujur, perawat menjelaskan jika ia telah meninggal dunia. Sekejap itu.

Hari terus berganti. Pinangan ditunda, keluarga calon mempelai pria bersabar menunggu kesembuhan Amirsyam.

Amirsyam diizinkan pulang ke rumah meski harus isolasi mandiri, sambil menunggu hasil SWAB.

Amisyam sangat dekat dengan kedua cucunya. Berita gembira sekaligus pilu dengan kehadiran Amisyam di rumah. Cucu yang biasa langsung memeluk dan menciumnya kini terpaksa dibawa menghindar. Ia berkomunikasi dengan cucunya terhalang tirai juga pintu kamar, meski di rumah tak jarang mereka harus video call. Karena begitu prosedur ketat isolasi mandiri.

Pilu, dekat tapi tak bisa mendekap. Dekat tapi tak bisa bercerita. Kedua cucunyapun mengerti jika “awan” mereka sedang sakit dan harus menjaga jarak.

Media sosial, adalah cara Amisyam untuk mencurahkan kesedihan hatinya hanya bisa melihat cucu tanpa bisa memegang, pun akhirnya himbauan untuk terus menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan dengan sabunpun ikut tersampaikan melalui media sosialnya.

Amirsyam teringat kata dokter, pasien adalah duta terbaik bagi perubahan prilaku masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kini Amirsyam telah sembuh. Lamaran dan pernikahan anaknyapun telah terlaksana pun begitu, kondisi kampus juga semakin membaik. Amisyam dinyatakan sembuh.

Comments

comments