Mengerikan Pengalaman Urang Gayo Masa Lalu Berdampingan Dengan Wabah, Kampung Pernah Dikosongkan

oleh
Petikan Hazeu (1907, halaman 340) yang menyebutkan Gayo pernah ada wabah mematikan. (Foto repro : Zulfikar Ahmad)

Catatan : Darmawan Masri*

Urang Gayo punya catatan kelam dimasa lampau saat menggadapi wabah penyakit. Beberapa catatan sejarah menunjukkan, wabah pernah terjadi di bumi Gayo, jauh sebelum Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang tengah menjadi pandemi dunia saat ini.

Sebut saja virus Laya atau pakanlaya yang pernah menyerang dataran tinggi Gayo pada akhir abad ke-18. Sebagaimana yang pernah dituliskan dalam artikel lainnya dengan judul : Pakan Laya, Virus Mematikan yang Pernah Menyerang Gayo Diakhir Abad ke-18

Peneliti Kerajaan Linge, Salman Yoga S beberapa waktu lalu mengatakan, virus tersebut patut diduga dibawa oleh Kolonialis Belanda pada tahun 1874-1880. Diceritakan Salman, pada masa itu Kapten Gotfried dalam perang Aceh periode kedua, membawa pasukannya masuk ke Gayo.

“Pasukan ini menjadi pembuka jalan untuk memata-matai kekuatan di wilayah Gayo diakhir abad ke-18, sebelum ekspansi kedua yang dilakukan oleh Van Daalen pada 1904. Diduga kuat mereka membawa virus mematikan ke wilayah di seputaran Buntul Linge. Karena sebelumnya, virus tersebut tidak pernah ditemukan di wilayah ini,” terang Salman.

Menurut Salman, sangking mengerikannya virus itu masyarakat menyebutnya dengan sebutan Pakan Laya. “Penyakit ini menyerang kulit, warga yang terpapar akan merasakan gatal yang luar biasa hingga berujung kematian massal.  Hingga masyarakat menyebut penyakit yang menyerupai hantu, tak terlihat tapi efeknya jelas dan dalam bahasa Gayo diistilahkan Pakan Laya. Penyakit ini menular dengan cepat,” terang Salman.

Lain itu, salah seorang pemerhati sejarah Gayo, Zulfikar Ahmad yang aktif mengamati lewat studi literasi dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang Belanda menyebutkan, hampir tidak ada yang bisa mengatasi wabah ini dimasa lampau.

“Sebagaimana dituliskan Hazeu (1907, halaman 340) ; “Pudah ha ara laya kul i Gayo, laya jema mulo, mari oya laya koro, meh oya ngeh lape kol meh jema bersangkan jep Alas, jep Aceh” (dulu ada laya (wabah) besar di gayo, pertama wabah menyerang manusia, kemudian wabah menyerang kerbau selanjutnya datang wabah kelaparan hebat merekapun mengungsi ke Alas, ke Aceh),” kata Zulfikar Ahmad Aman Dio mengutip tulisan buku tersebut beberapa waktu lalu.

Zulfikar Ahmad Aman Dio

“Hampir tidak ada yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi wabah ini. Menurut J. Kreemer upaya yang dilakukan mulai dari i-tawari, tulak bele dan membuat uris (mantra) tak mampu menyembuhkan penyakit yang timbul akibat dari wabah tersebut,” tambahnya.

Dikatakan lagi, Laya bukan satu-satunya wabah yang pernah terjadi di Bumi Gayo. “Orang Gayo pernah melewati beberapa Pandemi bukan cuma menyerang manusia tapi juga ternak. Pandemi besar yang pernah dilewati seperti Tifus, Beri-beri dan Kolera,” terangnya.

“Meski penyakit yang disebutkan itu, saat ini terdengar biasa saja karena sudah ditemukan obat, namun tidak bagi urang Gayo pada masa lampau,” ungkapnya.

Dijelaskan Aman Dio, korban terbesar adalah pandemi kolera yang terjadi sekitar tahun 1874 (J. Kreemer hal. 15) dan serangan terparah terjadi di lembang Geumpang. Menurut J. Kreemer sebelum perang Aceh, penduduk asli Geumpang Adalah orang Gayo, kemudian datang orang Aceh besar dan Pidie sampai datang wabah kolera.

Belum lagi kata Aman Dio, wabah tersebut juga menyerang beberapa kampung di kawasan Linge. Kampung-kampung pernah kosong pada saat itu.

“Kampung pernah dikosongkan adalah Owaq seluruh penduduk yang tersisa pindah dan membentuk belah di Toweren dan Kuala Bintang sebagai penduduk reje Gegerang (C. Snouck hal. 210). Ratusan orang diduga meninggal Dunia akibat Wabah kolera (C. Snouck hal. 181),” terangnya.

Selain wabah kolera, wabah yang menyerang Kerbau juga pernah terjadi sekitar tahun 1877 (3 tahun setelah kolera). Wabah pada kerbau ini pada saat itu disebut webe atau ta’uen atau laya.

Melihat beberapa penjelasan diatas, pada zaman dulu, urang Gayo menerapkan Herd Immunity (Kekebalan Kelompok) dalam menghadapi wabah. Akibatnya, banyak orang yang meninggal dunia karena dipaksa hidup berdampingan dengan wabah.

Standar protokol kesehatan pada masa itu belum ada. Apalagi, riset dan studi yang meneliti ke arah itu. Akhirnya wabah itu hilang dengan sendirinya dengan mengorbankan banyak nyawa.

Pada saat pandemi Covid-19 saat ini, istilah herd immunity yang sebelumnya didengungkan kini berubah menjadi New Normal atau tatanan kehidupan normal baru yang produktif dan aman dari Covid-19.

Yah, kegiatan produktif menurut banyak orang mesti diberlakukan, mengingat banyak negara yang akan mengalami resesi ekonomi akibat dari pandemi tersebut, terlepas dari semua bentuk konspirasinya.

Namun, begitu pengalaman urang Gayo saat menerapkan herd immunity dapat menjadi ikhtibar dan acuan kita pada saat ini menghadapi wabah Covid-19 dan juga konspirasinya.

Apapaun istilahnya yang dipakai, ini artinya, pada masyarakat Gayo pernah menerapkan herd immunity untuk menangani pandemi yang terjadi.

Herd Immunity (kekebalan kelompok) adalah membiarkan sebanyak mungkin orang yang terinfeksi, jika bisa bertahan hidup, ia akan kebal. Semakin banyak yang kebal maka akan semakin berkurang penyebaran infeksi virus/bakteri. Mereka yang tidak dapat bertahan akan meninggal dunia.

Hilangnya semua orang Gayo dari lembah Geumpang dan kosongnya kampung Owaq adalah contoh yang mungkin saja akan terjadi jika Herd Immunity diterapkan.

Di era new normal nanti, urang Gayo harus hati-hati. Berdampingan dengan wabah, bukan berarti kita aman. Istilah new normal yang berlaku saat ini, memiliki arti menerapkan kehidupan normal dengan mengikuti protokol kesehatan ketat yang harus dijalani.

Semoga pengalaman urang Gayo dimasa lampau saat menghadapi wabah tidak terulang dimasa sekarang ini. Kita terus berdoa, agar wabah dan segala konspirasinya segera ennyah dari muka bumi ini.

Kalau sebelumya ada istilah “jege ringkel-ringkel” jagalah sekelililing jangan sampai terinfeksi maka sekarang barang kali kita harus memulai dengan “Jaga diri dan keluarga”. Semoga tidak ada kaum yang Punah. Nauzubillah Minzalik.

*Pemred LintasGAYO.co

Comments

comments