Urgensi Filsafat Ilmu Bagi Mahasiswa

oleh

Oleh : Husaini Muzakir Algayoni*

Filsafat Ilmu (Philosophy of Science) di luar negeri telah mencapai taraf perkembangan yang sangat luas dan sungguh mendalam (radic), di Indonesia bidang pengetahuan ini mulai mendapat perhatian. Berbagai perguruan tinggi memberikan mata pelajaran (mata kuliah) filsafat ilmu, terutama pada tingkat pendidikan pasca sarjana (The Liang Gie, 1997).

Demikian juga dengan Mukhtar Latif mengatakan bahwa “Hampir semua perguruan tinggi menampilkan filsafat ilmu sebagai mata kuliah dasar untuk mengkonstruk keahlian berpikir mahasiswa, utamanya dalam mengkonstruksi keilmuan sesuai dengan fokus keahliannya masing-masing. Filsafat ilmu dipelajari semua tingkatan di perguruan tinggi, program sarjana, magister, dan doktoral dengan tujuan berpikir rasional, sistematis, dan radic.

Filsafat ilmu dipelajari untuk memenuhi keperluan perguruan tinggi, memacu budaya berpikir reflektif dalam masyarakat cendekiawan Indonesia, untuk meningkatkan pembangunan negara dan mencerdaskan kehidupan bangsa, berpikir lurus saja seperti diperkembangkan pada ilmu-ilmu belumlah memadai, melainkan perlu juga dilengkapi dengan berpikir reflektif, yaitu berpikir merenung secara berkali-kali dari semua sudut (The Liang Gie, 1997).

Pentingnya Filsafat Ilmu di perguruan tinggi, sebagaimana dikatakan oleh Amsal Bakhtiar (dalam Mukhtar Latif, 2014: 3) bahwa tujuan filsafat ilmu di dunia akademisi sebagai berikut:

Pertama, mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber hakikat dan tujuan ilmu. Kedua, memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu diberbagai bidang sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu secara historis dan kontemporer.

Ketiga, menjadi pedoman para dosen, mahasiswa, akademisi dan praktisi keilmuan untuk mendalami studi ilmu utamanya. Keempat, mendorong calon ilmuan agar konsisten menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan. Kelima, mempergegas bahwa dalam persoalan ilmu pengetahuan seni dan agama tidak ada pertentangan.

Keenam, mendudukkan secara proporsional ranah ilmu pengetahuan dengan persoalan seni, keindahan dan agama berada dalam satu kutub yang sama.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa filsafat ilmu merupakan mata kuliah dasar paling urgen bagi mahasiswa untuk mengkonstruk pikiran, memperoleh keilmuan yang mapan dan landasan yang kuat karena orang yang bergelut dalam bidang ilmu pengetahuan selalu dituntut untuk berpikir dan membuat perubahan yang konstruktif, dinamis, dan produktif dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai akademis, berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan, prosesnya serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan berupa pengetahuan.

Meskipun banyak buah pemikiran, pada hakikatnya dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok: apa yang ingin diketahui, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, apa nilai pengetahuan (Jujun S. Suriasumantri, 2003).

Nah, dari tiga pertanyaan tersebut dalam filsafat dikenal dengan sebutan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi berbicara masalah hakikat pengetahuan, epistemologi berbicara tentang asal-usul atau sumber pengetahuan dan aksiologi merupakan nilai dari pengetahuan itu sendiri, apakah ilmu pengetahuan dapat memberi manfaat kepada manusia atau malah sebaliknya membawa mudarat bagi masyarakat atau kehancuran bagi penduduk bumi.

Selanjutnya perlu diketahui hubungan filsafat dengan ilmu, filsafat mengandung banyak pengertian dari segi etimologi maupun terminologi, belum lagi definisi yang diberikan oleh para filosof yang mempunyai definisi yang berbeda-beda.

Pembahasan dalam filsafat ilmu, filsafat merupakan suatu cara berpikir yang radikal (akar) dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Sementara ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.

Walaupun tidak mengetahui secara menyeluruh materi filsafat ilmu, paling tidak bagi mahasiswa mengetahui tiga komponen di atas, yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai landasan dasar dalam mengkonstruk keahlian dalam berpikir. Sulit dan sukar memahami filsafat ilmu, dengan ketekunan dan kesabaran dalam belajar; mudah-mudahan bisa mendapatkan pemahaman.

Mahasiswa mempunyai identitas sebagai pelajar yang dinamis, membuka cakrawala pemikiran dan pengetahuan. Peran mahasiswa sangat dibutuhkan dalam perkembangan dunia pendidikan (ilmu pengetahuan) dan juga di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, tulisan singkat ini tentang urgensi filsafat ilmu bagi mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi bisa mendalami lebih jauh filsafat ilmu dalam berbagai perspektif. Semoga!

*Penulis, Kolumnis LintasGAYO.co, Mahasiswa Program Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry, Prodi Ilmu Agama Islam (Konsentrasi Pemikiran Dalam Islam).

Comments

comments