JAKARTA-LintasGayo.co : Sebuah teks sastra berupa puisi ternyata mempunyai peran yang cukup besar dalam peradaban sebuah bangsa, ia mampu menggugah, menyadarkan, menjadi sumber nilai sekaligus informasi penting bagi kehidupan manusia.
Demikian rangkuman pemikiran Sutardji Calzoum Bachri dalam Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia Selasa 18 Juli 2017 di Hall Convention Center Mercure Hotel, Ancol Jakarta.
“Teks Sumpah Pemuda yang ditulis 1928 adalah sebuah teks puisi. Dari teks Sumpah Pemuda itulah negara ini terbentuk menciptakan sebuah bangsa,” kata Sutardji Calzoum Bachri.
“Bagaimana sebuah teks, sebuah kata-kata puisi bisa menciptakan sebuah realitas bisa menciptakan negara dan gerasi-generasi dan karya-karya sastra selanjutnya, karya-karya ilmiyah, karya-karya idologi dan lain sebagainya,” jelas seniman gaek yang akrab disapa dengan bang Tardji sesaat sebelum tampil memcakan puisinya yang berjudul “Wahai Pemuda Mana Telormu”
Berikut petikan puisi Sutardji Calzoum Bachri yang dijuluki dengan sebutan Presiden penyair Indonesia itu.
Apa gunanya merdeka
Kalau tak bertelur
Apa gunanya bebas
Kalau tak menetas?
Wahai bangsaku
Wahai pemuda
Mana telurmu?
[Salman Yoga S]