3 Pondasi Menjaga Keutuhan Keluarga

oleh

MabubBanda Aceh-LintasGayo.co : Membangun rumah tangga yang kokoh membutuhkan pondasi yang kuat. Pekerjaan tersebut berlangsung sepanjang hidup. Sejak menikah, mencari nafkah, mempunyai anak, mendidik dan seterusnya.

“Untuk menjaga keutuhan keluarga, setidaknya ada pondasi yang harus dijaga,” kata Drs H Abdul Ghani Isa, SH, MAg Ketua Badan Pembinaan Penasehatan dan Pelestarian Perkawinan (BP-4) Provinsi Aceh saat menjadi narasumber dalam Diklat Teknis Fungsional Pembentukan Jabatan Penghulu Angkatan I Tahun 2016 di Kampus Balai Diklat Keagamaan Aceh, Banda Aceh (Minggu,28/8).

Pondasi-pondasi tersebut, yaitu: pertama, pondasi cinta. “Cinta merupakan fondasi penting dalam membangun keluarga,” ujar Pak Ghani yang juga Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry. Perasaan cinta suami istri akan membuat hidup penuh kenikmatan sekalipun dalam kesulitan. Itulah cinta sejati atau cinta sehidup semati, tambahnya.

Ciri-ciri cinta sejati menurut Abdul Ghani adalah: 1. Menikmati keberduaan; 2. Hangat dalam pembicaraan; dan 3. Saling mengikuti keinginan orang yang dicintai. “Watak orang yang memiliki cinta sejati, saling memaklumi kekurangan dan kelebihan,” paparnya.

Selanjutnya, tambah Mantan Kakandepag Aceh Utara itu. Fondasi yang kedua adalah dorongan fitrah. “Menyukai lawan jenis dan keinginan mencari jodoh adalah fitrah,” tandasnya. Fitrah inilah yang kemudian mengarahkan adanya pernikahan dan pembentukan rumah tangga. “Hidup dalam kesendirian adalah berlawanan dengan fitrah hidup manusia. Hidup melajang, akan terasa gersang dan hampa,” tambah H Abdul Ghani.

Kemudian, fondasi yang ketiga adalah Etos atau semangat beribadah. Menikah dengan diniatkan sebagai ibadah akan memperkokoh keutuhan keluarga. “Etos ibadah akan menjadi fondasi kehidupan keluarga bagi orang-orang yang memahami dan patuh kepada ajaran agama,” katanya. Semua aktifitas keluarga adalah ibadah.

Dipahami, bahwa menurut ajaran Islam nilai-nilai beragama separohnya adalah di dalam rumah tangga, separoh selebihnya tersebar pada berbagai aspek kehidupan. Demikian Abdul Ghani Isa sembari menyajikan materinya dengan memberikan tugas kelompok dan diskusi bagi peserta diklat yang terdiri dari para Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan calon penghulu itu.

(Mahbub Fauzie)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.