Menuju Terwujudnya ‘Hari RRR’ Bukti Pengakuan Negara

oleh

Tugu RRRDUA peristiwa penting di Aceh yang menjadi simpul selamatnya Indonesia dari kehancuran. Namun jasa tersebut belum mendapat pengakuan resmi dari Negara. Demikian hasil diskusi singkat sejumlah pemerhati sejarah di Gayo, Jum’at 19 Agustus 2016.

Peristiwa pertama, penolakan pisahnya Aceh dari Indonesia oleh Tgk Daud Beureueh di tahun 1949.

Peristiwa kedua tidak lain adalah swara Radio Rimba Raya (RRR) yang mematahkan propaganda Belanda di PBB jika mereka sudah menguasai Indonesia saat Agresi Meliter II di tahun 1948.

Kedua peristiwa ini sangat penting, namun belum mendapat pengakuan resmi dari Negara.

Khusus soal peran RRR, peserta diskusi ini menyepakati akan melakukan upaya-upaya militan agar segera mendapatkan pengakuan dari Pemerintah, walau secara lisan seperti dari Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah sudah dicetuskan dalam beberapa kesempatan resmi dan tidak resmi.

Diskusi menghangat dan akhirnya menyimpulkan digagasnya simposium yang diharapkan melahirkan sedikitnya 3 butir rekomendasi.

Pertama, pengusulan Hari RRR sebagai salahsatu hari besar Kabupaten Bener Meriah, selanjutnya diperjuangkan menjadi Hari Besar Aceh dan Hari Besar Nasional.

Rekomendasi kedua, dilakukannya perbanyakan dan pendistribusian film dokumenter RRR karya Ikmal Gopi serta dilakukannya penyusunan buku RRR untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah, khususnya yang ada di Gayo untuk materi muatan lokal.

Terakhir, peserta diskusi meminta kepada pemerintah Kabupaten Bener Meriah segera mengusulkan jalan lintasan Takengon-Bireuen di Kampung Rime Raya dialihkan ke sisi lokasi tugu RRR.

Tujuannya agar semua orang yang melintas dapat melihat tugu tersebut. Setidaknya ada tanda tanya, tugu apa yang berdiri yang juga menjadi bagian utama lambang daerah Bener Meriah.

Dengan pemindahan bagian lintasan jalan utama ke Gayo ini, lokasi tugu RRR akan menjadi sumber ekonomi masyarakat karena akan menjadi tempat tujuan wisata dan tempat peristirahatan para pengguna jalan yang melintas. Tentu saja dengan penambahan fasilitas pendukung seperti pasar buah, penganan serta souvenir.

Langkah-langkah yang akan ditempuh mewujudkan rekomendasi ini digagas simposium yang menghadirkan sejarawan nasional, Aceh dan Gayo serta praktisi hukum.

Selain itu dalam tahun 2016 akan digelar pertemuan massal untuk mengenang jasa RRR dengan peserta organisasi masyarakat, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, LSM, komunitas-komunitas serta individu-individu yang peduli terhadap sejarah.

Peserta diskusi ini diantaranya, penulis Muhammad Syukri, sutradara film dokumenter RRR Ikmal Gopi, Kabag Humas Bener Meriah Irmansyah, Ketua PWI Bener Meriah Khalisuddin, pengamat seni budaya serta wartawan Jauhari Samalanga, tokoh pemuda Muslim Ibrahim dan wartawan LintasGayo.co, Aryanto. (WA)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.