Sastra Lisan Gayo Dan Media Komunikasi Islam

oleh

Oleh : Salman Yoga S*

Foto Salman Yoga SDalam sebuah seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara (FTLN) bertempat di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, seorang narasumber Prof. Dr. Yus Rusyana (Guru Besar IKIP Bandung) dalam persentasi makalahnya mengatakan bahwa; tradisi lisan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sekaligus menjadi cerminan dari keseluruhan kebudayaan. Di dalamnya terkandung pengalaman masyarakat pemiliknya dalam mengusahakan kesejahteraan hidup melalui pemahaman dan pemanfaatan lingkungan, pemecahan masalah, penyelesaian konflik, persentuhan dengan dunia luar dan pengintegrasian analisis baru.

Demikian urgen peran dan fungsi sastra lisan di tengah masyarakat pemilik kebudayaan sehingga kitapun harus kembali pada masa silam, dimana sastra lisan masih diperankan oleh masyarakatnya dengan baik. Sekaligus kita juga dalam konteks kekayaan budaya perlu bertanya pada kekinian tentang pelestarian sastra lisan, tentang kematian dan tentang dengus nafasnya di tengah masyarakat dengan berbagai media serta sarana hiburan modren.

Masyarakat Gayo sangat kaya dengan wahana pengekspresian berupa seni sastra. Namun dalam perkembangan modrenis dan menjamurnya teknologi hiburan, seni sasetra lisan yang pada awalnya mempunyai posisi penting di tengah masyarakat, lambat laun menjadi tergusur. Seakan ia tak pernah ada, dan yang lebih ironi lagi ketika salah satu dari sastra lisan itu coba diperankan kembali dalam bentuk pementasan, masyarakat pemiliknya justru merasa aneh dan asing.

Kenyataan ini cukup membuat para seniman dan para pelaku seni tradisional serta pemerhati dan pecinta seni budaya Gayo menjadi setengah putus asa. Terlebih dukungan dan perhatian dari masyarakat selaku pewaris tunggal dari kebudayaan yang dimaksud kurang responsif, atau bahkan nyaris tidak ada sama sekali.

Masyarakat umum, di luar masyarakat Gayo hanya mengenal sastra lisan dari dataran tinggi di tepian Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah itu adalah seni didong. Padahal di samping seni didong mereka masih memiliki sastra lisan yang beragam, yang justru tidak kalah menariknya dengan kesenian didong sendiri. Sebut saja seperti; Melengkan, Kekeberen, Sebuku, Kekitiken atau Ure-ure, Sa’er dan lain sebagainya.

Semua jenis sastra lisan Gayo tersebut di atas pada awalnya mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dalam dinamika kehidupan sosial dan dalam interaksi antar anggota masyarakat dengan masyarakat serta antar satu daerah dengan daerah lainnya. Seperti didong minsalnya, selain berfungsi sebagai wahana ekspresi berkesenian masyarakat melalui syair lagu, tepukan tangan dan gerak badan, ia juga mempunyai peran sebagai media komunikasi sekaligus informasi di tengah masyarakatnya. Sebagai media penyampai program pembangunan dan sebagai media dakwah Islam.

Sastra lisan masyakat Gayo itu di antaranya adalah : Kekiteken atau Ure-ure. Yaitu sebuah seni dalam berteka-teki. Inti dari sastra lisan ini adalah untuk melatih kecerdasan dan daya nalar antar pelaku melalui teka-teki yang disampaikan secara bergantian antara dua orang atau lebih. Kesenian ini biasanya dilakukan oleh anak-anak, remaja dengan orang yang lebih senior atau seusia pada waktu menjelang tidur.

Dari segi bahasa dan kalimat yang digunakan dalam seni kekiteken ini lebih mementingkan tata bunyi, kecerdasan serta kedalaman isi, yang disampaikan dengan irama dan pola persajakan ab-ab ab-ab. Menurut Prof. DR. MJ Melalatoa sastra lisan kekiteken ini adalah salah satu bentuk puisi Gayo yang telah berusia cukup tua.

Seni sastra lisan lainya adalah Melengkan atau seni berpidato adat. Yaitu seni dalam berbicara dan berpidato adat yang disampaikan dalam berbagai kesempatan upacara-upacara adat. Masyarakt Gayo tempo dulu kerap melahirkan rasa seninya melalui kata-kata yang puitis, yang mengandung tamsil, ibarat, metafor dan perumpamaan yang tidak semua orang dapat mencerna, menterjemahkan makna dan maksudnya dalam waktu seketika. Melengkan ini pada dasarnya mencerminkan kehalusan budi dan bahasa seseorang dalam berkomunikasi. Pidato adat ini pula biasanya dilakukan secara berbalas-balasan antara dua orang, dan oleh para pendengarnya dapat dirasakan kalah atau menangnya seseorang dalam ber-melengkan.

Secara umum seni ber-melengkan lebih dikenal juga dengan seni berpantun dalam bentuk pidato-pidato adat. Namun demikian dalam upacara perkawinan, melengkan menjadi unsur utama yang ada dalam penyerahan pengantin wanita kepada pihak keluarga pengantin pria, demikian juga sebaliknya.

Sebuku. Yaitu seni meratap dalam mengungkapkan perasaan yang terjalin dalam bentuk puisi-puisi tertentu, yang umumnya hanya dilakukan oleh kaum wanita. Puisi sebuku ini ditembangkan dalam menghadapi musibah dan perpisahan. Seperti kematian, yang disebut juga dengan sebuku maté,atau pada saat upacara perkawinan yang disebut sebuku mungerje, serta di dendangkan pula pada akhir sebuah pergelaran seni didong jalu.

Isi dari puisi sebuku biasanya mengungkapkan hal-hal yang bersifat eksploratif dari sejarah hidup, kepribadian, amal baik dan kenangan terhadap orang yang di-sebuku-i. Di dalamnya juga diselipkan hal-hal yang bersifat elegi, mengharukan, memohon maaf dan meminta izin atau restu. Dalam kasus kematian dan perkawinan sastra lisan ber-sebuku ini sudah tidak pernah dilakukan lagi oleh masyarakat Gayo. Karena dianggap bertentangan dengan ajaran dan syari’at Islam. Namun pada akhir sebuah pementasan seni didong jalu, sebuku masih tetap didendangkan sebagaimana biasanya, sebagai bertanda masing-masing group atau kelop yang bertanding tersebut telah saling memaafkan.

Kekeberen. Yaitu salah satu bentuk prosa yang disampaikan secara lisan. Bentuk sastra ini pada masa lalu mendapat tempat tersendiri dikalangan masyarakat. Karena kekeberen selain sebagai media hiburan menjelang tidur yang dituturkan oleh sang pencerita kepada anak-anak dan remaja, juga berfungsi sebagai media untuk mendidik anak dalam berprilaku dan bersikap terhadap orang tua, teman, lingkungan alam serta masyarakat. Tema-tema yang terangkum dalam seni kekeberen di antaranya adalah tentang akal bulus, suri tauladan / ketauladanan, patuh terhadap orang tua, setia kawan, cinta antar sesama, heroisme, hutan, hewan dan lain sebagainya.

Seni sastra lisan berupa kekeberen dalam budaya masyarakat Gayo saat ini sudah tidak pernah diperankan dan tidak pernah terdengar lagi dari rumah-rumah penduduk, bahkan dapat dikatakan seni sastra lisan kekeberen telah punah digantikan oleh vcd, sinetron televisi, sandiwara radio dan lain-lain yang berbasis teknologi. Padahal sastra lisan Gayo berupa kekeberen mempunyai fungsi dan peran yang sangat efektif sebagai media pendidikan ekstra dalam membina moral serta kepribadian anak.

Seni sastra lisan, yang keberlangsungan hidupnya sampai saat ini terengah-engah adalah seni sastra Sa’er. Yaitu satu seni bertutur yang hampir menyerupai dengan kesenian didong. Hanya saja seni sastra ini tidak disertai dengan tepukan tangan sebagai musik pengiring sebagaimana layaknya kesenian didong. Sa’er pada awalnya adalah merupakan media dakwah Islam, yang isinya berupa tafsir al-Qur’an dan hadis nabi. Mengisahkan tentang kehidupan para nabi dan rasul, sahabat serta berupa nasehat-nasehat yang bersumber dari ajaran agama Islam.

Dari segi bentuk, sebagaimana halnya dengan syair Indonesia-Melayu, pada umunya merupakan puisi empat baris dan dua baris sebait dengan rima persajakan ab-ab, ab-ab. Selain memperdalam dan mensi’arkan ajaran agama, ibadah syari’ah, akhlak seni sa’er juga bercerita tentang sejarah, yang mengisahkan tentang peristiwa-peristiwa dengan menampilkan watak dan karakteristik pelakunya, negeri dan daerah tempat dimana suatu kisah berlangsung. Menurut Prof. Daud Ali, seni sastra lisan sa’er ini sangat berperan dalam proses sosialisasi dan penyebaran Islam di tanah Gayo masa lalu.

Dalam mensosialisasikan dan membumikan kembali syari’at Islam di Aceh khususnya, pemberdayaan sastra lisan seperti sa’er adalah satu tindakan bijak yang patut menjadi bagian dari media dan program pemerintah dimasa-masa yang akan datang. Takengon sebagai basis dari jenis kesenian ini, selain pacuan kuda tradisional tidak ada agenda cultural lain yang signifikan dan terprogram, dengan melibatkan dan memberdayakan sub-sub kebudayaan lainnya yang mulai langka.

Kebudayaan telah menjadi barang rongsokan. Estetika tinggal selogan-selogan kosong dalam petatah petitih, sementara pemerintah melalui lembaga-lembaga terkaitnya seakan kian acuh terhadap hal-hal yang berbau kebudayaan tradisi dalam arti luas. Melestarikan kebudayaan sebagai kearifan lokal adalah salahsatu yang integral dengan -high culture- sebuah peradaban bangsa.

Salman Yoga S, adalah pengajar di UIN Ar-Raniry dan Institut Seni Budaya (ISBI) Aceh, penyair dan budayawan Indonesia, Direktur Lembaga The Gayo Institute (TGI) tinggal di Takengon.

*Artikel yang sama telah dimuat di Harian Rakyat Aceh, 6 Maret 2016.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.