Perkenalkan, Barista Muda asal Gayo Lues Terbaik 2 Banda Aceh

oleh

IMG_0911DIANTARA kerumunan pengunjung di acara Festival Coffee Banda Aceh yang digelar beberapa hari lalu, terlihat sosok Barista muda sedang sibuk meracik kopi spesial andalannya. Pria itu berbadan tinggi dan berambut kribo, menggunakan kostum serba hitam, tidak terkecuali celemek khas Barista yang Ia kenakan. Dia terlihat sangat fokus, ditambah cuaca kala itu yang amat panas membuat keringatnya mengucur lebih deras. Matanya terlihat tajam memperhatikan mesin kopi di depannya, sesekali Ia menyeka keringat, namun tak mengurangi mimik senyum ramahnya ketika dia sadar sedang diperhatikan orang banyak.

Ialah Belangi Farasat Isyma, salah satu dari 15 orang peserta lomba Barista sekaligus peraih Juara 2 terbaik dalam ajang lomba Barista di Festival Coffee yang digelar sejak 6 – 8 November 2015 lalu di Taman Sari Kota Banda Aceh.

Faraz, panggilan akrab Barista kelahiran Blangkejeren 10 Oktober 1997 ini patut diapresiasi. Sebab, meskipun dengan umurnya yang masih tergolong muda, Faraz sudah mampu membawa harum nama daerahnya di tingkat Ibu Kota Provinsi di bidang Kopi moderen.

Anak Bungsu dari tiga bersaudara pasangan Iskandar dan Maisarah ini mengaku tidak menyangka bisa meraih juara 2. Pasalnya, dibanding peserta yang lain, dirinya masih tergolong pemula. Namun disamping itu, dirinya mengaku bersyukur dan berjanji akan belajar lebih banyak lagi tentang kopi.

“Saya bersyukur bisa diberi penghargaan seperti ini. Saya ingin belajar lebih banyak lagi. Termasuk kepada senior-senior Barista yang ada di Banda Aceh,” aku Faraz merendah sembari menyuguhkan kopi racikannya, Senin (9/11/2015).

IMG_7084Ditanya tentang pengalamannya menjadi Barista, Faraz sesaat diam, wajah serius terlihat jelas di dirinya. Dengan sedikit gugup dan sekilas senyum, Faraz mulai bercerita bahwa dirinya mulai menyukai kopi moderen ini saat dirinya menjadi Pelajar kelas XI di SMA N 14 Bandung,”Itu berawal karena saya frustasi akibat harus cedera dan terpaksa berhenti menjadi pemain sepak bola di Tim PERSIB Bandung Junior (Baca: Mantab, Bujang Gayo Lues Ini Jadi Pemain Sepak Bola Terbaik U-15 Se-Kota Bandung). Saat itu semuanya bercampur aduk, sedih, kecewa dan sebagainya. Saat itu juga saya sadar saya harus mencari kegiatan positif agar tidak terlarut yang tentu akan membawa pengaruh negatif kepada saya,” terang Faraz panjang lebar.

Lanjutnya, berawal dari perkenalannya dengan seorang bernama Putra pengusaha warung kopi asal Gayo di Bandung, dirinya mulai tertarik untuk belajar meracik kopi. Namun ternyata perjalannya bukan semudah membalikkan telapak tangan, selain faktor keluarga yang kurang mendukung, Faraz juga harus membuang jauh- jauh sifat umping (Mudah tersinggung, Gayo.Red).

“Saat itu saya seperti di ospek. Disuruh ini itu, sampai dihukum karna telat beberapa menit. Bahkan saya pernah disuruh bekerja membersihkan lantai restoran ternama di Bandung. Tapi saat itu saya sadar kalau saya sedang diuji, karena itu saya melakukannya. Karena saya ingin belajar,” cerita Faraz.

Mungkin karena melihat keinginan saya begitu besar untuk belajar tentang kopi, kami menjadi lebih akrab, hingga seperti saudara kandung sendiri, terang Faraz sambil menambahkan bahwa setelah dirinya tamat sekolah dan pulang ke kampung asalnya Blangkejeren, Gayo Lues, Faraz tetap belajar secara otodidak. Meskipun dukungan keluarga belum sepenuhnya dia dapat.

Akhirnya belum lama ini, sekitar dua minggu yang lalu, Faraz memutuskan untuk belajar ke Banda Aceh. Disamping suasana daerahnya yang menurutnya cocok untuk belajar kopi, dukungan dari orang disekelilingnya membuat Faraz mengaku lebih nyaman di Banda Aceh.

Hingga akhirnya Faraz ikut serta dalam ajang Barista di Festival Coffee Banda Aceh yang turut dihadiri oleh wisatawan luar daerah. Ditangan dinginnya, kopi asal warung Red Long Gayo Arabica kerabatnya di Bandung berhasil menjadikan Faraz sebagai Barista terbaik 2 se Banda Aceh. Dan saat ini, Faraz sudah diminta untuk bekerja di Warung Tanabata Ulee Kareng Banda Aceh.

“Alhamdulillah, saya bersyukur dan Saya berharap bisa membanggakan kedua orang tua saya. Serta mengubah pola pikir masyarakat di Gayo Lues yang tergolong kurang tertarik tentang kopi. Saya ingin membuktikan kalau kopi Gayo Lues juga patut bersaing, dan kopi bisa membawa pengaruh sangat baik. Baik untuk kesehatan, juga masa depan saya,” kata Faraz.

Ditanya tentang rencananya yang akan datang, Faraz mengaku saat ini sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan studinya dan berharap kelak bisa membuka usaha warung kopi sendiri.

“Bagaimanapun keinginan orang tua saya tetap menjadi fokus utama. Sembari saya juga ingin belajar tentang kopi, saya berharap nanti saya tidak hanya mengandalkan menjadi pegawai negeri untuk masa depan saya, Saya ucapkan terimakasih buat Keluarga yang selalu mendoakan saya, serta semua teman-teman yang selalu mendukung. Saya berharap penghargaan ini bisa membentuk karakter saya menjadi lebih baik lagi,” harap Faraz menutup ceritanya. (Supri Ariu)

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.