[Laporan Perjalanan Bersama KBQ Baburrayyan ke Jawa -3]
Salahsatu tujuan study banding para petani kopi Gayo anggota Koperasi Baitul Qiradh (KBQ) Baburrayyan ke Kampoeng Kopi Banaran Semarang Jawa Tengah adalah melihat bagaimana mengelola pohon pelindung kopi yang baik.
“Pohon pelindung berupa Lamtoro di Banaran sudah sangat baik, dipangkas dengan baik,” ungkap Rizwan Husin, ketua KBQ Baburrayyan di Banaran, Sabtu 17 Oktober 2015.
Dijelaskan, fungsi pohon pelindung adalah mengurangi intensitas matahari yang sampai di daun kopi, karena tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada areal yang terbuka.
Persoalan di Gayo, kata Rizwan, sebagian sudah terlalu rimbun menutupi pohon kopi, dan sebagian lagi malah kebalikannya, samasekali tidak dinaungi pohon pelindung.

Panjang lebar dijelaskan, respon pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi terhadap tanaman pelindung ini sangat nyata. Pada pertanaman kopi yang diusahakan di tempat terbuka tanpa menggunakan tanaman pelindung pertumbuhannya akan sangat lambat, warna daunnya kekuningan, tanaman cenderung tumbuh kerdil yang ditandai dengan semakin pendeknya panjang antar cabang produktif, pembungaan lebih lambat, produksinya juga akan lebih rendah karena cabang produksinya lebih pendek jika dibanding dengan tanaman kopi yang budidayanya menggunakan tanaman pelindung.
Sebaliknya, apabila tanaman pelindungnya terlalu rimbun tanaman kopi akan mengalami pertumbuhan yang kurang baik yang ditandai dengan daun berwarna hijau gelap, melebar dan lebih tipis dengan jumlah daunnya juga berkurang.
“Yang belum ada pohon pelindung mesti ditanam, dan yang sudah ada mesti dirawat dengan pemangkasan seperti di Banaran. Pihak KBQ Baburrayyan sudah menerapkan pemangkasan pohon pelindung kepada para petani anggotanya, dan kedepan lebih kita efektifkan dengan penyuluhan-penyuluhan,” tandas Rizwan Husin.
Klik ; Detil Kampoeng Kopi Banaran dan Satu Jam di Kampoeng Kopi Banaran
(Khalis)






