Jakarta-LintasGayo.co : Sampai hari kelima atau penutupan Seminar dan Lokakarya Kebahasaan dan Lembaga Adat dalam rangka memperingati hari jadi 70 tahun bahasa Negara, 18 Agustus 1945-18 Agustus 2015 dengan tema “70 Tahun Negara Berbahasa Indonesia: Merajut Kebinekaan Bangsa menuju Bahasa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” di Hotel Kartika Chandra Jakarta, 17-21 Agustus 2015 yang diadakan Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah empat bahasa daerah dari Aceh yang sudah direkam Badan Bahasa.
“Alhamdulillah, sudah empat bahasa lokal dari tiga belas bahasa lokal di Aceh yang sudah direkam. Tahap awal, bahasa Gayo dan bahasa Alas. Kemudian, bahasa Aceh. Terakhir, bahasa Singkil,” kata DR. Fadjri Alihar, M.A. di Jakarta, Minggu (13/8/2015).
Sebetulnya, jelas peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) asal Singkil itu, dia ikut sebagai peserta mewakili Singkil. “Pas acara, saya ke Mentawai. Jadi, nggak bisa ikut dan tidak terdaftar. Tapi, hari keempat dan penutupan, saya tetap hadir,” sebutnya.
Dijelaskannya, dalam kesempatan itu, panitia kemudian merekam bahasa Singkil. “Saat rekaman, saya memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia. Lalu, dialihkan ke dalam bahasa Singkil. Setelah itu, bercerita dalam bahasa Singkil. Terakhir, menyebut 45 kata dasar yang ditetapkan panitia ke dalam bahasa Singkil,” sebutnya.
DR. Fadjri berpendapat, laboratorium kebhinekaan bahasa yang dibuat Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut sangat penting terkait pengenalan, pembelajaran, dan pelestarian bahasa-bahasa lokal yang ada di Indonesia. “Kita bisa belajar bahasa-bahasa lokal di Indonesia ke sana. Menariknya, ditampilkan dalam rekaman audiovisual. Tentu, lebih menarik,” ujarnya.
(AF | DM)





