Fenomena Hujan Es dan Dampaknya

oleh

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq *

Hujan Es Merusak tanamanMemasuki masa pancaroba (peralihan musim hujan ke musim kemarau) pada bulan Juli – Agustus 2015 ini, ditandai dengan fenomena hujan es di bebarapa wilayah di Indonesia. Kejadian terparah dari fenomena alam yang langka ini terjadi di kabupaten Puncak Jayawijaya di Papua serta beberapa daerah di provinsi Riau.

Di kawasan pegunungan di Kabupaten Puncak Jayawijaya, hujan es bahkan sudah menimbulkan korban jiwa sampai 11 orang dan ratusan hektar lahan pertanian rusak akibat hantaman hujan es ini, sampai menimbulkan dampak kerawanan pangan dan kelaparan di daerah itu. Di kabupaten Aceh Tengah sendiri, beberapa waktu yang lalu juga telah terjadi hujan es di beberapa desa, meski masih dalam skala dan intensitas rendah, namun juga sudah menimbulkan dampak kerusakan pada tempat kediaman dan lahan pertanian milik warga.

Kenapa hujan es bisa terjadi?

Hujan terjadi akibat adnya perubahan uap air yang terkandung dalam awan menjadi titik-titik air, proses ini disebut presifitasi. Dalam kondisi normal, gumpalan awan akan berubah menjadi titik-titik air hujan, namun dalam kondisi tertentu, presifitasi bisa berlangsung secara “tidak normal”, dimana gumpalan awan yang berisi uap air tidak terururai dengan sempurna sehingga ketika turun masih berupa butiran-butiran menyeruapai kristal, hal tersebut bisa terjadi jika suhu udara turus drastic secara tiba-tiba.

Karena berbentuk Kristal, maka kecepatannya turun sampai ke permukaan tanah pun menjadi lebih tinggi, untuk butiran es dengan dengan diameter 1 cm, memiliki kecepatan 34 km/jam dan untuk butiran Kristal dengan ukuran yang lebih besar diameternya, misalnya 5 cm atau lebih, kecepatannya bisa mencapai 240 km/jam. Butiran atau bongkahan kecil es tersebut yang kemudian berdampak terhadap kerusakan rumah, kendaraan dan tanaman di lahan pertanian.

Hujan es juga bisa terjadi pada daerah yang terbentuk awan Comulonimbus dalam jumlah banyak. Awan jenis ini karena bentuk dan sifatnya yang padat, seringkali menyebabkan proses presifitasi berjalan dengan tidak sempurna, sehingga ketika uap air yang berada dalam awan tersebut turun sebagai hujan, sebagian masih berbentuk butiran-butiran Kristal. Terbentuknya awan Comulonimbus cenderung terjadi pada masa pancaroba yaitu peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya, karena pada masa tersebut kondisi cuaca isa berubah secara cepat dan tiba-tiba.

Dampak Hujan Es Terhadap Lahan Pertanian.

Dampak terbesar dari turunnya hujan es di suatu daerah adalah terjadap tanaman pada lahan pertanian, hujan yang turun dalam bentuk butiran-butiran kristal, secara fisik dapat langsung merusak semua bagian tanaman seperti daun, ranting, cabang dan batang.

Selain itu hujan es juga bersifat sangat asam sehingga dapat “meracuni” tanaman yang terkena hujan es tersebut, tanaman bisa “hangus” akibat sifat keasaman hujan es itu. Jika hujan es tersebut turun pada cakupan wilayah yang kecil dan terbatas serta durasi waktunya pendek, dampaknya masih diminimalisir dengan menyemprotkan air bersih pada tanaman yang terkena hujan es.

Tapi jika cakupan curah hujan es itu meliputi wilayah yang cukup luas seperti yang terjadi di Papua, sudah dapat dipastikan semua tanaman akan hancur dan satu-satunya jalan untuk menanganinya adalah dengan melakukan rehalibilitasi tanaman secara total, dan itu membutuhkan waktu yang panjang apabila terjadi pada tanaman tahunan seperti kopi.

Begitu juga jiga “hantaman” hujan es tersebut “menyapu” lahan pertanian tanaman pangan, sangat berpeluang terjadinya gagal panen atau puso yang tentu berdampak pada kerawanan pangan di daerah tersebut, hal inilah yang terjadi di Puncak Jayawijaya pada pertengahan bulan Juli 2015 yang lalu. Selain bisa merusak lahan pertanian, hujan es juga dapat meyebabkan kerukan pada rumah, kendaraan dan infrastruktur lainnya.

Untuk konteks Aceh Tengah, fenomena hujan es juga pernah terjadi di beberapa daerah, seperti di Wih Ilang dan Atu Lintang pada tahun 2014 yang lalau, dan baru-baru ini terjadi lagi di daerah Belang Gele dan Totor Uyet dan sempat merusak beberapa rumah warga.

Meski cakupan wilayahnya masih termasuk kecil dan durasi waktunya relatif pendek, namun kita semua harus tetap memawasdainya, karena kondisi cuaca yang berubah-ubah sampai saat ini masih terjadi di Dataran Tinggi Gayo ini.

Suhu udara serta arah dan kecepatan angin yang sewaktu-waktu berubah-ubah secara tiba-tiba, bisa berpeluang terjadinya kembali hujan es di daerah ini. Apalagi hasil pemotretan Citra satelit milik BMKG pada bulan Juni dan Juli 2015 menunjukan bahwa di wilayah tengah Aceh, kemungkinan terbentukkanya awan Comulonimbus cukup besar. Kerusakan hutan dan lingkungan di daerah ini ditengarai sebagai salah satu penyebab terbentuknya awan Comulonimbus yang di dunia penerbangan merupakan “momok” yang sangat ditakuti.

Sebagai umat beragama Islam, tentu kita hanya bisa bertawakkal dan berserah diri kepada Allah SWT, semoga kita terhindar dari semua bencana. Tentu saja rasa tawakkal kita juga harus diiringi perubahan sikap dan perilaku kita terhadap lingkungan kita, menjaga kebersihan lingkungan dan menanam pohon-pohon pada lahan kritis adalah tindakan bijak untuk mengembalikan fungsi lingkungan kita. Disamping itu mencegah perambahan hutan dan kerusakan lingkungan, adalah upaya riil untuk menjauhkan kita dari berbagai bencana.

*) Pemerhati Iklim dan Cuaca, tinggal di Takengon.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.