Mengintip Budaya “Lamle” di Gayo Lues

oleh
Ilustrasi

Catatan : Supri Ariu*

Ilustrasi
Ilustrasi

BULAN Ramadhan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia. Bulan ramadhan sebagai bulan istimewa, penuh berkah juga penuh ampun dan segala amal baik akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Namun disamping itu, ternyata di Kabupaten Gayo Lues selain keistimewaan beribadahnya, ada satu budaya yang juga paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat khususnya bagi Anak-anak yaitu budaya “Lamle”.

Lamle merupakan kegiatan Anak-anak Gayo Lues menghiasi pekarangan rumahnya dengan sejumlah obor, serta puluhan lilin yang ditempatkan pada batang pisang. Lamle dilaksanakan setahun sekali yakni hari ke 27 Puasa pada malam hari, tepatnya setelah berbuka puasa hingga sebelum melaksanakan sholat tarawih. Pada saat lamle dimulai, seluruh orang tua pria disibukkan dengan menemani Anak-anaknya menghiasi batang pisang dengan lilin, juga menyusun sejumlah obor di depan rumah mereka masing-masing. Sementara itu para Ibu-ibu melakukan kegiatan menumbuk tepung untuk membuat kue khas Gayo yakni Lepat dan Gutel sebagai hidangan pada hari lebaran nanti.

Uniknya, budaya lamle hanya dilakukan di Gayo Lues dan beberapa masyarakat asal Gayo Lues di Aceh Tenggara. Sedangkan untuk daerah dengan masyoritas suku Gayo seperti di Aceh Tengah dan Bener Meriah masih asing dengan budaya lamle itu sendiri.

Hingga saat ini, belum diketahui pasti asal-muasal atau sejarah dan tujuan, serta makna dari budaya lamle. Namun yang pasti, lamle sudah ada sejak zaman dulu Gayo Lues ada dan kebiasaan tersebut sudah ada secara temurun di Gayo Lues. Sejumlah Tokoh Masyarakat di Blangkejeren pada Senin (13/7) malam mengungkapkan, budaya lamle sudah ada sejak dulu kala, lamle sebagai ajang silaturahmi dan bermain bagi Anak-anak antar desa di Gayo Lues. Pada saat itu, para orang tua di satu Desa akan disibukkan dengan menemani Anak-anaknya bermain lilin sekaligus berlomba menghiasi rumahnya dengan batang pisang yang dihias menggunakan lilin.

Namun seiring berjalannya waktu, lamle mulai tertinggal dan dilupakan. Khususnya desa yang berada di Ibu Kota Gayo Lues yakni Kecamatan Blangkejeren, sudah sangat jarang sekali ditemui Anak-anak bermain lamle. Dari pantauan yang dilakukan Tim LintasGayo.co pada Senin (13/7) malam, hanya beberapa Desa lagi yang masih melaksanakan Lamle untuk Desa di Kecamatan Blangkejeren, seperti Desa Penampaan, Raklunung, Bukit, Durin dan beberapa Desa lainnya. Sedangkan desa besar lainnya yang berada diseputaran Kota Blangkejeren malah tampak lengang.

H. Zainuddin, salah satu masyarakat Kota Blangkejeren mengakui, kini budaya lamle mulai terbuang. Saat ini hanya desa yang berada di Kecamatan yang jauh dari Ibu Kota saja yang masih melaksanakan lamle. Sedangkan Desa di seputaran Ibu Kota Gayo Lues, lamle mulai asing bagi Anak-anak karena kurangnya penjelasan dari para orang tua. Mirisnya lagi, lamle seakan tertelan dengan kehadiran mercun yang dianggap lebih menarik, padahal seperti yang diketahui mercun itu sendiri memiliki resiko dan bahaya yang relatif tinggi bagi penggunanya.

“Tentunya kita merasa sedih jika kebudayaan kita tersebut semakin asing bagi masyarakat Gayo Lues itu sendiri apalagi jika penyebabnya adalah karena kebudayaan luar yang padahal jauh lebih berbahaya untuk Anak-anak kita. Semoga kita sebagai orang tua lebih hati-hati memilih permainan untuk Anak-anak kita serta budaya yang ada jangan sampai hilang akibat kurangnya pengetahuan dari para orang tua untuk Anak-anak,” tutup H. Zainuddin. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.