Oleh : Sulaiman Juned*
Buku “Perempuan Berjangkat Utem” Antologi tiga penulis Aceh Salman Yoga S, Vera Hastuti dan Irama Br Sinaga yang diterbitkan oleh The Gayo Istitute (TGI), 2015. Seluruh cerpen dalam buku tersebut berangkat dari realitas sosial pengarang menjadi realitas sastra.
Sang penulis cerpen melakukan proses pencatatan peristiwa dirinya dalam membangun konflik. Salman Yoga S cerdas mencatat lembaran kisahnya yang getir-pahit dan suka menjadi pengalaman empirik pembacanya. Salman Yoga S jeli dalam merebut gagasan lalu menggaet kesadaran pembaca ke ruang imajinasi cerpenis melalui deskripsi tokoh, tempat, suasana yang sugestif pada dua cerpennya “Perempuan Berjangkat Utem” dan “Kotak Kiriman Inen Muftiyah Ke Ketol”.
Salman meramu suasana dramatik dan berempati ketika mengikuti dengan cermat alur yang dibangun sehingga pembaca menjadi prihatin terhadap tokoh melalui bahasa sastrawi yang menggoda serta memikat. Salman membeberkan kekuatan lokalitas Gayo yang tak pernah kering digali dalam ruang sastra untuk dihadirkan kepada pembaca.
Cinta dan humanisme menjadi tema dalam “Perempuan Berjangkat Utem”. Kekayaan lokalitas inilah yang dibenturkan lewat pengalaman pribadinya yang tidak mau pergi dari haru biru perjuangan hidup ibu kandungnya dalam membesarkan anak-anak.
Sementara itu Vera Hastuti dengan karya berjudul “Poleh” juga menawarkan spirit lokalitas ke-Gayo-an seperti “Aqiqah” buat anak setelah turun mandi dan cenderung melakukan selalu saja bernazar. Pilihan kode budaya Aceh seperti ini dapat menjadi luar biasa jika mampu mengelola pengolahan bahasa dan pengucapan yang tepat.
Penyeleksian konflik yang profosional dan rasional dengan menggerakkan plot menjadi kesatuan yang utuh pada awal-tengah dan akhir. Di samping itu harus mampu menggerakkan tokoh agar hidup melalui paduan dalam narasi dan dialog para tokoh. Vera belum jeli dalam mengelola ini, jika ini dapat dikelola dengan baik, maka cerpen ini akan menjadi luar biasa.
Sedangkan Irama Br Sinaga dengan cerpen “Ada Umak dalam Skripsiku”. Konfliknya masih datar, etalase cerpennya sebagai kunci pembuka belum mampu memainkan emosi pembaca. Sehingga tidak mampu membuat pembaca penarasan. Barangkali cerpenis dapat melakukan dengan memberikan sentakan akhir di cerpennya melalui kejutan-kejutan. Penyusupan pesan belum dapat menjadi inspirasional bagi pembaca.
Ketiga penulis cerpen memang sedang menuliskan dirinya menjadi kisah untuk dikontemplasikan kepada pembaca “Perempauan Berjangkat Utem”. Sebenarnya ini bukanlah sebuah kebetulan, sastrawan selalu membaca kehidupan, dan berpikir. Hal ini boleh dilakukannya melalui menguping; yakni mendengarkan orang yang sedang berbicara.
Tentu bagi seorang kreator hal ini dapat menjadi ide yang berharga. Mengintip; melihat, serta mengamati persoalan yang terjadi pada dirinya, dan lingkungannya. Melakukan; merasakan langsung apa yang terjadi. Jadi tiga hal ini telah dilakukan oleh ketiga penulis cerpen “Perempuan Berjangkat Utem”. Peristiwa dirinya-keluarganya, mengental dalam pikir, dan jiwanya. Ya hasilnya lahirlah “Perempuan Berjangkat Utem” dari buah perenungan panjangnya.
Maka, benarlah teori Ganzheit dalam kajian sastra, karena sastra merupakan kesatuan langsung dalam bentuk dan isi. Ide, tema, dan peristiwa, serta pengarangnya menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
Ganzheit memiliki teori ‘totalitas’ (pertemuan dua subjek). Karya sastra dengan tema-tema yang besar serta gaya yang murni. Tema bukanlah sesuatu yang luar biasa dalam menyampaikan artistik puitikal yang segar. Penghayatan situasi, tentu harus menggunakan metode analitik untuk mengupas tema besar. Ganzheit tentu pula dapat menentukan makna karya sastra itu karena mengkaji dari seluruh elemen, minimal mengupas karya sastranya dan sekaligus membaca pengarangnya. Sebab totalitas secara keseluruhan pengaruh dari lingkungan hidup sang sastrawan sangat mempengaruhi karya yang dilahirkannya. Karya tersebut tidak terpecah-pecah, bersatu dan harmonis dengan diri pengarangnya.
Gunawan Muhammad mengatakan, Ganzheit merupakan penghayatan totalitas pertemuan dari hati ke hati (dua subjek), melalui seorang pribadi ke pribadi yang lain. Orientasi ekspresif; karya sastra-pengalaman-perasaan-pikiran sastrawan, pembaca atau kritikus maka bertemulah dua subjek. Karya sastra adalah subjek yang merdeka (Rahmad Djoko Pradopo, Kritik Sastra Indonesia Modern. 2002. Jakarta: Gema Media, p. 203).
Menikmati “Perempuan Berjangkat Utem” pengarang Salman Yoga S dengan cerdas mengelompokkan kata dalam latar, alur, alur, dan konflik melalui pada tokoh yang dihadirkannya, seolah pengalaman orang lain. Sesungguhnya bila ditelisik lebih jauh, segala peristiwa merupakan realitas diri pengarang sendiri yang nilai dan spiritnya diaktualisasikan kembali nilai dan spirit berkehidupan saat ini.
Peristiwa inilah yang disebut realitas sastra. Kecerdasan penulis cerpen meramu tiga dimensi sastrawi; estetika-etika-logika yang ditransformasikannya sebagai medium pendidikan dan moralitas bagi pembaca. Ini yang membuat karya sastra itu berkualitas.
Ada perbedaan ruang kreatif antara Salman Yoga S dengan Vera Hastuti dan Irama Br Sinaga. Buat Salman Yoga ide kreatifnya yang ditanam, dibangun, dipupuk dan disirami selama berpuluh tahun, bahkan selama hidupnya telah menuai hasilnya. Jadi, bagi Vera Hastuti dan Irama Br Sinaga jangan patah semangat teruslah bergiat untuk mengelola bibit-bibit ide kreatif dengan baik agar dapat memetik hasil yang sempurna. Selamat kepada para penulis, Bravo![]
*Artikel ini telah di muat pada Ruang Budaya Harian Umum “Rakyat Sumbar” (Jawa Pos Group) edisi Sabtu, 23 Mei 2015 dengan judul asli “Pola Pikir Kreatif Dalam Kearifan Lokal: Tiga Cerpenis Perempuan Berjangkat Utem”.
Sulaiman Juned adalah penyair, kolumnis, esais, dramawan, Sutradara Teater, Dosen Jurusan Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatera Barat. Pendiri Sanggar Cempala Banda Aceh (1986), Pendiri/Penasihat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat, Sekretaris/Ketua Panitia Pendirian ISBI Aceh (2012/3013), Dewan Pakar Dewan Kesenian Aceh (2014) serta Kandidat Doktor Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia Surakarta.






