Catatan Maha Putra: KP3ALA yang Bikin Lamban Pembangunan

oleh

*) Maha Putra, S.PD

alababas“ALA sudah terbentuk sebelum ayam berkokok Pagi”. Kiasan bahasa tersebut merupakan api semangat yang di lontarkan Dr Rahmat Salam MSI , Ketua Harian Komite Persiapan Pembentukan Provinsi  Aceh Leuser Antara (KP3ALA) tahun 2006 saat Kongres Masyarakat ALA berlangsung di di Gedung Olah Seni (GOS) Aceh Tengah.

Perjuangan pembentukan provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) ini digencarkan di publis sejak tahun 1999 dan puncaknya tahun 2004. Saat itu alasan yang digiring seperti keadaan Aceh yang tidak kondusif, perbedaan kultur budaya pesisir Timur-Barat-Tengah Aceh yang berbeda. Jaraknya rentang kendali antara pemerintahan provinsi dengan pemerintah kabupaten, tidak meratanya pembangunan, serta kuatnya ritme kesukuan sehingga tokoh-tokoh di wilayah Tengah Tenggara Aceh tidak masuk di dalam roda penggerak pemerintahan Aceh.

Dan penggerak pembentukan provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) merupakan tokoh-tokoh dari 5 kabupaten (Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah) baik yang menduduki struktural pemerintahan, tokoh politik maupun tokoh adat. Untuk menyamakan gerak perjuangan maka dibentuklah Komite Persiapan Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (KP3ALA), untuk pengurus di Jakarta disebut KP3ALA Pusat yang bertugas mengurusi persiapan usulan pembentukan di tingkat DPR RI, Menteri dan Presiden, dan Dr Rahmat Salam MSi dipilih menjadi ketua pengurus harian dan Ketua Umum KP3ALA dan melibatkan Prof Dr Baihaki AK. Sementara kepengurusan di daerah disebut KP3ALA Kabupaten yang kini keberadaannya kian redup. Saat H Armen Desky menjabat bupati Aceh Tenggara periode 2002-2007 perjuangan pembentukan provinsi ALA sangat menggebu-gebu, seakan provinsi ALA lahir esok pagi.

Namun faktanya berbeda, sampai H Armen Desky tidak menjabat bupati lagi, perjuangan itu terus “ciut dan redup”, bahkan Arman Desky terjerat Kasus korupsi pasca dilaporkan oleh Irwandi Yusuf (Mantan Gubernur Aceh) yang telah melakukan penggelapan dana APBD Aceh Tenggara, Bung Armen terindikasi menyebabkan kerugian Negara mencapai 26,9 M sehingga hakim menvonis kurungan selama 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta, bung Armen juga diharuskan membayar uang pengganti kerugian korupsi sebesar Rp 2,1 miliar.

Disisi lain Bung Armen selalu mengungkapkan bahwa penangkapannya bukanlah proses murni penggelapan dana mengingat dana yang dikeluarkan untuk kepentingan kestabilan keamanan Aceh Tenggara pada saat itu dan bantuan sosial bagi masyarakat Aceh Tenggara, proses penangkapannya dilakukan untuk melemahkan perjuangan pembentukan provinsi ALA. Berdasarkan besarnya pengeluaran dana tersebut tidak tertutup kemungkinan sebagian besar dana digunakan untuk pendanaan pembentukan Provinsi ALA yang hingga kini tak kunjung terbentuk.

Perjuangan para tokoh ALA ini kemudian bagai mimpi, tak pernah tiba sesuai “janji” perjuangan. kegagalan itu dipicu oleh rentannya kepengurusan KP3ALA Pusat terhadap lobi-lobi politik dan kekuasaan seperti yang pernah terjadi pada tahun 2008 yaitu pembiasaan aksi kepala desa di gedung Mendagri oleh Ketua Hubungan Masyarakat KP3ALA H.M Iwan Gayo untuk menuju ketua KP2DT Aceh, tidak sedikit uang rakyat untuk pembiayaan keberangkatan Kepala Desa yang harus ditanggung rakyat, kerugian-kerugian yang ditimbulkan ini harus dipertanggungjawabkan oleh pengurus KP3ALA selama 12 tahun terakhir, termasuk lambannya pembangunan kabupaten Aceh Tenggara pada masa kepemimpinan H Armen Desky yang terindikasi sebagai dana yang dikorupsi.

Jadi erjuangan ALA sangat sia-sia, bahkan KP3ALA, khususnya di Aceh Tenggara, harus mempertanggungjawabkan kelambanan pembangunan yang terjadi karena telah mengiming-imingi rakyat dengan gebyar ALA,  sementara pembangunan yang ril yang justru menguntungkan rakyat menjadi lamban. Kalau kita kembali pada fikir yang jernih, Pembangunan Aceh Tenggara seharusnya sudah  gemilang, jauh melibihi dari pembangunan yang terjadi sekarang. Dalam hal ini KP3ALA harus  menjelaskan kepada rakyat logika ALA dan pembangunan, apakah “pemisahan” dengan provinsi Aceh berarti rakyat makmur, dan apa mungkin anggaran yang di peroleh dapat berlipat dari yang di peroleh Aceh saat ini? Janji ini ibarat menangkap asap, terlihat namun tak terasa atau melukis di air, sia-sia saja.

*) Maha Putra, S.PD adalah Lulusan Universitas Syiah Kuala FKIP Kimia.  Tokoh Pemuda Aceh Tenggara dan Mantan Ketua Peguyuban Mahasiswa IPMAT Banda Aceh, tinggal di Kutacane, Aceh Tenggara.

 

BERITA  TERKAIT:

Catatan Tokoh Pemuda Aceh Tenggara: ALA Cukup Buat Kenangan

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.