dr. Windu Segara Senet, Aktivis Kopi Asal Bali yang Ingin ke Gayo

oleh

PicsArt_1424080010435dr. Made Windu Segara Senet, S.Ked adalah sosok yang unik dan multi dimensi. Menempuh pendidikan sebagai seorang dokter, pemuda berusia menjelang 26 tahun ini malah menghabiskan sebagian besar energinya untuk mempopulerkan Minuman Kopi di kalangan anak muda Bali.

Di Gayo, dimana Kopi adalah minuman utama lintas generasi baik tua maupun muda adalah penggemar Kopi. Tapi di Bali tidak demikian, anak muda Bali lebih suka minum Bir.

Windu, yang mewarisi pabrik penggongsengan Kopi dari orang tuanya melihat ini sebagai tantangan. Dokter yang juga pelukis sekaligus graphic designer ini ingin mengubah kebiasaan anak ini. Selain karena Kopi lebih sehat, Windu juga melihat gerakan ini bisa membantu para petani Kopi di Bali untuk memastikan produknya diserap pasar. Sebab tidak seperti di Gayo, dimana biji Kopi begitu mudah dijual. Di Bali, Kopi baru bisa dijual setelah terkumpul banyak. Baru kemudian ada tengkulak yang datang dan menawar harga secara sepihak. Petani memiliki daya tawar yang sangat lemah.

Dengan semangat mudanya, pada tahun 2015 Windu membuka warung yang dinamankan “Mangsi Coffee” di Jl Hayam Wuruk Denpasar. Dalam bahasa Bali, Mangsi berarti Jelaga, yang jika dikaji dari sisi spiritualisme Bali. Ini adalah simbol dari penyucian.

Supaya warungnya didatangi anak muda, Windu membranding Warungnya dengan gaya pemasaran modern, dengan positioning yang jelas. Windu mendesain warungnya dengan suasana khas anak muda. Menyiapkan panggung untuk penampilan band dan aktivitas berkesenian lain. Serta mensponsori berbagai kegiatan terkait aktivitas anak muda.

Untuk memperkuat Brand-nya, Windu tidak lupa memunculkan beberapa slogan untuk membuat orang mencintai kopi. Saat ini Tagline Warung Kopi yang memilih kebijakan hanya menjual Kopi yang diolah dari biji Kopi Bali ini adalah “Mangsi Virus Coffee Fever”. Dengan slogan seperti itu Windu berharap minum kopi asli Bali akan menjadi pembaharuan budaya di Denpasar.

Sebagai seorang aktivis Kopi, tentu saja Windu mengetahui Gayo yang merupakan penghasil Kopi Arabika terbesar di Dunia. Windu mendapat informasi kalau sekarang berbagai teknik pengolahan Kopi, mulai dari pemanenan, penjemuran, roasting sampai pengolahan sedang berkembang pesat di Gayo. Dan ini sangat menarik perhatian Windu. Karena itulah Windu ingin sekali mengunjungi Gayo untuk merasakan sendiri bagaimana Kopi telah menjadi nafas keseharian masyarakat. Kemudian di Gayo, Windu juga mempelajari berbagai teknik pengolahan Kopi dan dia mengaku akan mewujudkan keinginannya itu pada tahun ini.

(Win Wan Nur)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.