Yogyakarta-LintasGayo.co: Komunitas pecinta seni dan budaya yang diberi nama Gaya Gayo besok, Jum’at (14 November 2014) akan memberikan workshop Tari Saman kepada para mahasiswa Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Abdi Yasni Kendawi, salah satu pengurus Gaya Gayo kepada LintasGayo.co Kamis (13/11/2014) malam mengungkapkan, kegiatan ini bermaksud untuk meluruskan falsapah tentang Tari Saman yang selama ini tidak sama dengan ciri-ciri Saman Gayo yang sebenarnya.
Abdi, sapaan akrab alumni mahasiswa Universitas Dipenogoro ini menjelaskan, materi Saman yang ada dalam kurikulum ISI sejak 11 tahun terakhir berbeda dengan materi Saman yang ada di Kabupaten Gayo Lues. Oleh karena itu, Gaya Gayo ingin meluruskan kesalah pahaman tentang tari Saman itu, sehingga tarian-tarian duduk pesisir asal daerah Aceh lainnya tidak terbunuh akibat Saman, terang Abdi panjang lebar.
“Berdasarkan penjelasan dari beberapa mahasiswa ISI, materi Saman dalam kurikulum ISI Yogyakarta berbeda dengan materi Saman yang di Gayo dan yang telah ditetapkan badan Unesco,” Tarang Abdi, pemuda asal Ujungdah, Gayo Lues ini.
Lanjutnya, diduga tarian yang diajarkan di ISI merupakan kreasi dari Tari Ratoh Duek yang memang juga merupakan jenis tarian duduk. Namun sayangnya, belasan tahun dipraktekkan di bangku perkuliahan, para mahasiswa telah salah paham tentang perbedaan sejumlah tarian duduk yang ada di Provinsi Aceh.
“Tujuan kami membuat workshop ini bukan untuk mengeksklusifkan Saman, bukan juga untuk membongkar kurikulum yang sudah ada. Akan tetapi kami membantu memberikan kajian ilmiah tentang asal-usul Saman sebagai tari tradisional, filosofi syair dan gerakannya, serta perkembangannya”, tutur Trisha pengurus Gaya Gayo menambahkan keterangannya
“Jika kemudian didapati bahwa tari yang selama ini dipelajari adalah Ratoh Duek maupun kreasi lainnya, maka diharapkan nama setiap tarian dikembalikan pada tempatnya” tegas Trisha.
Sambil menambahkan, “Sebab sayang sekali kalau semua disebut Saman, sementara Provinsi Aceh sangat kaya dengan beragam tarian, baik tradisional maupun kreasi. Dengan tidak menyertakan informasi tentang tarian aslinya, kita tidak menghormati etika penciptaan.
Dalam workshop ini Gaya Gayo juga membuka peluang bagi para mahasiswa untuk memperdalam Tari Saman dengan para penari Saman yang berada di Yogyakarta. Begitu pula bagi para mahasiswi yang ingin belajar beragam kreasi seperti Ratoh, Rampo, Tari Pukat, dan sebagainya, Gaya Gayo akan arahkan ke sanggar mahasiswa Aceh.
Sedangkan yang akan menjadi pemateri dalam workshop tersebut diantaranya adalah Joel Tampeng, Abdul Muthalib, dan Abdi Yasni Kendawi. (Supri Ariu)






