Takengon-LintasGayo.co : Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) terpilih dari Dapil 4 Aceh Tengah dan Bener Meriah, Bardan Sahidi mengklaim Pemilu Legislatif adalah Pemilu yang paling biadab.
“Orang-orang cerdas dikalahkan oleh kebiadaban politik, contohnya Tgk. Husaini meraih suara pribadi terbanyak namun gagal ke DPRA,” kata Bardan dalam kesempatan berbicara di Refleksi Pemilu 2014 yang digagas Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Rabu (04/06/14) di Bergendaal Koffie Takengon.
Selain itu, dia juga membantah pernyataan aktivis Jaringan Anti Korupsi (JangKo) Idrus saputra jika Pemilu Legislatif 2014 berjalan damai di Aceh Tengah dan Bener Meriah.
“Sudah ada garis polisi di sejumlah TKP (Tempat Kejadian Perkara:red) kerusuhan dalam rangkaian Pemilu Legislatif, contohnya di Puskud Pante Raya dan TKP lainnya. Bagaimana bisa disimpulkan Pemilu Legislatif damai,” kata Bardan bernada tanya.
Selanjutnya dalam proses pemilihan hingga Caleg terpilih, menurut Bardan, seorang Caleg akan terpilih jika yang bersangkutan memilik sosial baground, sosialisasi politik dan social activity yang baik. Selain itu motivasi dan control politic juga menentukan terpilihnya seorang Caleg,” kata Bardan, politisi Partai Keadilan Sosial (PKS) ini.
Terkait kebiadaban politik, kata dia, disebabkan juga adanya intervensi terkait perekrutan penyelenggara Pemilu. “Jika saya ketua Komisi A di DPRK maka saya leluasa menentukan siapa penyelenggara. Ini kan wasit jadi pemain,” tugas Bardan.
Amatan LintasGayo.co, diskusi berjalan hangat, peserta saling mengemukakan pendapat terkait berjalannya pemilu Legislatif 2014 di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Tampil sebagai narasumber perwakilan Panwaslu Bener Meriah, Aktivis JangKo Idrus Saputra dan Bardan Sahidi. Sebagai moderator diskusi ini Fakhruddin dari Redelong Institute. (Khalis)





