Oleh : Saradi Wantona*

WAKTU itu, memang bukan saat yang tepat untuk memberitahu padamu sebuah pengakuan. Pengakuan yang selama ini kuanggap layak untuk didapatkan. Ternyata memberimu kepercayaan, semakin mempersulit keadaan. Hampir bersamaan, suasana itu selalu menyulut perasaan. Rasa bersalah itu bercengkerama diterpa keresahan. Bukan tanpa alasan, keniscayaan itu muncul ketika dihalangi oleh rasa pesimis yang terus menggambarkan, kehadiranmu seperti etalase yang tidak berarti apa-apa.
Waktu itu, bukan rasa penyesalan yang terpikirkan. Ketika berhadapan dengan krisis politik saat ini, aku takluk dengan rezim yang sangat egosentris, fasis bahkan sangat tidak sehat. Hak-hak sebagai warga negara seperti dikebiri oleh hasupan kezaliman yang mencederai hatiku yang akut ini. Kekecewaan itu kian parah ketika keputusanmu, membuat warga di kampungku, menderita, lahannya tidak bisa digarap, harga pupuk naik, sedangkan harga produksi merosot tajam, semakin jatuh miskin. Terus miskin !
Harapan demi harapan ia tumpukan dipundakmu. Tapi kau terus saja mengunyah, melahap apa saja yang ada dihadapanmu. Ketamakan, menghilangkan rasa kemanusiaanmu, dan itu sangat keji sekali. Kau lupa bahwa keberhasilanmu, tidak didapatkan lewat pengundian lotre, tapi ditentukan oleh jutaan umat manusia, tukang sapu, pengemis, bahkan seorang kuli bangunan.
Dari sanalah bermuara, rasa pesimisme dan banyak orang mengernyitkan dahi karena kau tidak bisa diandalkan, kau payah! Ketika bersamaan lima tahun yang lalu, lidahmu sepertinya tidak pernah kelu, dengan lantang kau mengatakan “ini waktu yang tepat, kami di sini karena Anda ” slogan – slogan seperti ini kerap menjadi hal yang lumrah, dan kau tidak pernah merasa malu ketika kembali mengulangnya.
Jujur warga di kampungku, kadang bertanya “ kapan jalan ini dibangun, kapan hasil pertanian mahal harganya, dan kapan anak – anaknya bisa menempuh pendidikan gratis. Saya hanya tersenyum tipis, dan menjawab enteng, sibak rokok teuk! (satu batang rokok lagi ini selesai)
Sangat ironis memang, ketika kembali ke hadapan konstituenmu, tidak ada rasa bersalah sedikitpun atas ketidakberhasilanmu, melihat jalan – jalan di kampungku yang berlubang, debunya bukan main, banyak pengendara kehilangan nyawa di jalan yang seharusnya bisa dibangun dengan enam bulan gajimu, ternyata luput dari janji yang pernah kau lontarkan waktu itu. Penantian panjang itupun menjadi sia – sia, orang – orang kecil di kampungku, kecewa, frustasi, karena dia salah memilihmu. Ia tertipu, tidak cerdas, hanya tamat Sekolah Dasar, bahkan buta huruf, menjadi korban.
Sehingga waktu itu, warga di kampungku, menunggu adanya perubahan, bantuan usaha, pengembangan ekonomi kreatif, jangankan muncul, dana aspirasi pun lenyap dicuri oleh jin Ifrit. Tanpa rasa berdosa, ingin kembali mengambil kesempatan kedua, keserakahan mengalahkan segalanya.
Tidak bisa dipungkiri, barangkali nilai peradaban kita memang terkikis dimensi yang amoral. Memang sulit mengukur hal itu, tapi barangkali ini progress sebuah zaman atau tantangan zaman, luput dan lalai karena sudah terkontaminasi dengan kemajuan zaman yang terlampaui. Rezim politik itu memang omong kosong, karena integritas dan etika lenyap ditelan gemerlapnya sebuah kekuasaan. Piramida keimanan bisa menjadi tawaran. Seringkali orang mengatakan politik itu kejam, “ia membunuh orang – orang yang tidak bersalah” bisa jadi ini pembenaran.
Ini memang bukan sinisme, barangkali masih ada harapan sibak rokok teuk. Orang bijak sering mengatakan sudah seharusnya mengaktualisasikan kesadaran kritis terhadap pembenahan dan persoalan – persoalan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat, dengan kejernihan intelektual tepatnya. Karena orang bijak yang demikian itu adalah orang yang tidak membiarkan dirinya terlibat dalam sebuah jebakan “kepemihakkan” melainkan mampu mentransedenkan hati nurani dan berkutat pada sebuah kebenaran yang hakiki.
Orang-orang di kampungku, saat ini tertegun, bermeditasi dengan tungku menyala, menyulut harapan, sibak rokok teuk. Pagi dan petang berharap cemas kapan mereka tertawa bahagia ketika mendengar kabar, hasil pertaniannya mendapat harga dengan layak, bisa mendunia, anak –anak mereka bisa sekolah gratis, asupan gizi yang cukup, sehingga tidak ada lagi kaum ibu yang meninggal karena kurang gizi, akibat anggaran selalu untuk perawatan mobil dinas, tunjangan kerja, bahkan plesiran ke luar negeri. Sibak rokok teuk mencerca harapan, karena cita – cita orang dikampungku menunggu kapan ini selesai.
—
*Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, dan Alumni Sekolah Anti Korupsi Aceh Angkatan III, Email : saradiwantona[at]gmail.com





